Rupiah Siap Pamer Kekuatan

Jakarta: Dolar Amerika Serikat (USD) diperkirakan menguat terhadap sejumlah mata uang kuat dunia seperti euro dan poundsterling. Indeks USD akan bergerak di level 96,9-97,1 hari ini didorong kembali oleh meningkatnya ketidakpastian di kawasan Eropa setelah sejumlah menteri di kabinet Theresa May mundur.

“Hal itu terjadi seiring ketidaksetujuan mereka terhadap beberapa poin kesepakatan keluarnya Inggris dari Eropa atau Brexit,” ungkap Analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Jumat, 16 November 2018.

Adapun USD kembali menjadi aset safe heaven di tengah ketidakpastian tersebut dan juga mendorong turunnya imbal hasil surat utang Pemerintah AS. Sedangkan rupiah diperkirakan menguat hari ini usai dinaikannya tingkat suku bunga BI 7-D RR oleh BI sebanyak 25 bps menjadi enam persen yang memberikan efek kejut positif bagi pasar saham dan obligasi.

Kenaikan tingkat suku bunga tersebut merupakan respons yang positif dari BI setelah rilis data neraca perdagangan mengalami defisit yang cukup lebar sebesar USD1,8 miliar di Oktober dibandingkan dengan September yang surplus sebesar USD227 juta.

“Rupiah diperkirakan bergerak menguat ke level Rp14.500 sampai dengan Rp14.600 per USD,” kata Ahmad Mikail.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average meningkat 208,77 poin atau 0,83 persen, menjadi berakhir di 25.289,27 poin. Indeks S&P 500 naik 28,62 poin atau 1,06 persen, menjadi ditutup di 2.730,20 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir 122,64 poin atau 1,72 persen lebih tinggi, menjadi 7.259,03 poin.

Saham Apple melonjak 2,47 persen menjadi ditutup pada USD191,41 setelah melemah sesi sebelumnya. Saham perusahaan mengalami kerugian curam awal pekan ini dan merosot ke wilayah bearish pada Rabu 14 November karena diperdagangkan lebih dari 20 persen di bawah tingkat tertinggi sepanjang waktu baru-baru ini.

(ABD)