Analis: Rupiah Catat Rekor Terendah sejak Krisis Ekonomi

Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali mencatat rekor terendah pada perdagangan hari ini. Rupiah merosot ke level yang tak pernah tersentuh sejak krisis finansial 1998 yaitu Rp15.178 per USD.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menjelaskan depresiasi rupiah dipicu tiga hal yakni ketegangan dagang AS-Tiongkok yang memburuk, kenaikan harga minyak, dan dolar AS yang secara umum menguat.

Menurut dia prospek kenaikan suku bunga AS berpotensi mempercepat arus keluar modal dari pasar berkembang, sehingga rupiah tetap rentan mengalami kejutan negatif.

“Ekspektasi akan semakin besar bahwa Bank Indonesia (BI) akan kembali meningkatkan suku bunga untuk menolong rupiah, namun ini sepertinya tak dapat membantu banyak untuk membatasi penurunan nilai rupiah,” kata dia dalam hasil risetnya, Jumat, 5 Oktober 2018.

Dia mengatakan asumsi ini berdasarkan fakta bahwa rupiah tetap terperosok walaupun BI telah meningkatkan suku bunga sebanyak lima kali sejak Mei tahun ini.

Arah pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal sehingga prospek jangka pendek hingga menengah tetap bearish. Dari aspek teknis, USD-IDR tetap sangat bullish di grafik harian. Penutupan harian di atas Rp15.000 per USD dapat memicu kenaikan menuju Rp15.300 per USD bahkan lebih.

Rilis Laporan Lapangan Kerja AS, Dolar Stabil

Selain itu pekan trading ini sangat positif bagi dolar Amerika Serikat. Sebagian besar data ekonomi dari Eropa, Inggris, Tiongkok, dan negara lainnya memberi kejutan negatif, namun ekonomi AS masih berkibar.

Ini dapat semakin mendukung apresiasi Dolar di jangka pendek dan tidak akan mengejutkan apabila indeks dolar melampaui level tertinggi Agustus yaitu 97.

Sebagian investor mungkin ingin menunggu konfirmasi dari laporan NFP Jumat sebelum menambah posisi bullish. Mengingat komponen tenaga kerja dari laporan ISM non-manufaktur melesat ke rekor tertinggi dan data ADP melampaui ekspektasi sebesar 45 ribu lapangan kerja, saya menduga NFP juga akan melampaui ekspektasi.

“Walau demikian, saya lebih tertarik mencermati data pertumbuhan upah, karena kejutan positif akan memicu ekspektasi bahwa inflasi akan melampaui target dua persen dan Fed mungkin perlu memperketat kebijakan lebih cepat dari proyeksi,” jelas dia.

Dari sudut pandang teknis, indeks dolar tetap sangat bullish di grafik harian. Penutupan harian di atas 96,00 dapat membuka jalan untuk peningkatan menuju 96,40.

Harga Minyak Terbantu Isu Oversuplai

Harga minyak berada mendekati level tertinggi empat tahun menjelang sanksi AS terhadap Iran dan penurunan produksi dari Venezuela. Ketidakpastian prospek pasokan minyak global dapat memicu masalah pasokan, sehingga harga minyak akan tetap terangkat di jangka pendek. Dari aspek teknis, WTI Brent tetap sangat bullish dengan level bidikan USD87,20.

Emas Terombang-ambing

Emas tetap terombang-ambing oleh sejumlah faktor fundamental yang bertolak belakang. Dolar yang menguat secara umum dan prospek kenaikan suku bunga AS sangat menekan logam mulia ini.

Walau demikian, ketidakpastian seputar utang Italia dan ketegangan dagang AS-Tiongkok mendorong pasar untuk mencari aman dan pada akhirnya menguntungkan bagi emas sebagai instrumen safe haven.

Aksi harga yang tidak bergairah menyiratkan bahwa logam mulia ini memerlukan pemicu baru untuk mendorong pergerakan signifikan berikutnya. Data NFP yang kuat dan isyarat kenaikan pertumbuhan upah dapat membuat emas melemah.

(AHL)