Imbal Hasil Surat Utang Negara Diprediksi Tumbang

Jakarta: Imbal Hasil Surat Utang Negara (SUN) seri acuan 10 tahun diprediksi bergerak turun didorong oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), dan stabilnya imbal hasil surat utang Pemerintah Amerika Serikat (AS).

“Imbal hasil SUN 10 tahun kemungkinan bergerak di rentang 8,50-8,76 persen,” kata Analis Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Senin, 15 Oktober 2018.

Sementara itu, imbal hasil surat utang Pemerintah AS jangka menengah (10 tahun) dan panjang di AS (30 tahun) pada Jumat malam masing-masing naik tipis satu bps ke level 3,15 persen dan 3,32 persen. Naiknya imbal hasil surat utang Pemerintah AS didorong keyakinan investor bahwa pasar saham AS masih dapat lanjutkan penguatan tahun ini.

“Harga minyak dan gas dorong penguatan imbal hasil surat utang Pemerintah AS,” tuturnya.

Di sisi lain, ia memproyeksikan gerak rupiah menguat hari ini jelang rilis data neraca perdagangan di September. Defisit neraca perdagangan diperkirakan menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya menjadi USD500 juta atau kemungkinan dapat mencatatkan surplus.

“Ekspor September diperkirakan tumbuh 7,3 persen (yoy) dan impor tumbuh 24,3 persen (yoy). Data neraca perdagangan September tersebut diperkirakan memberi sentimen positif bagi rupiah hari ini. Rupiah kemungkinan menguat ke level Rp15.150 hingga Rp15.200 per USD,” kata Ahmad Mikail, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta.

(ABD)

Rupiah Bertekuk Lutut di Rp15.230/USD

Jakarta: Gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Senin pagi atau di awal pekan terlihat terpental ke zona pelemahan dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp15.197 per USD. Sejauh ini, nilai tukar rupiah masih belum berhasil kembali ke level Rp14.000 per USD.

Mengutip Bloomberg, Senin, 15 Oktober 2018, nilai tukar rupiah perdagangan pagi dibuka tertekan ke Rp15.230 per USD. Sedangkan day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp15.230 hingga Rp15.235 per USD dengan year to date return di 12,39 persen. Sementara itu, menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp15.017 per USD.

Di sisi lain, indeks USD diperkirakan naik ke level 95,0-95,5, dan dinilai akan perkasa terhadap sejumlah mata uang utama lainya terutama euro. Penguatan USD terhadap euro didorong oleh risalah rapat bank sentral Eropa (ECB) pada Kamis lalu yang memberikan sinyal bahwa terjadi pelemahan terhadap outlook pertumbuhan ekonomi Eropa.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail memproyeksikan gerak rupiah menguat hari ini jelang rilis data neraca perdagangan di September. Defisit neraca perdagangan diperkirakan menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya menjadi USD500 juta atau kemungkinan dapat mencatatkan surplus.

“Ekspor September diperkirakan tumbuh 7,3 persen (yoy) dan impor tumbuh 24,3 persen (yoy). Data neraca perdagangan September tersebut diperkirakan memberi sentimen positif bagi rupiah hari ini. Rupiah kemungkinan menguat ke level Rp15.150 hingga Rp15.200 per USD,” kata Ahmad Mikail, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta.

Sementara itu, imbal hasil surat utang Pemerintah AS jangka menengah (10 tahun) dan panjang di AS (30 tahun) pada Jumat malam masing-masing naik tipis satu bps ke level 3,15 persen dan 3,32 persen. Naiknya imbal hasil surat utang Pemerintah AS didorong keyakinan investor bahwa pasar saham AS masih dapat lanjutkan penguatan tahun ini.

(ABD)

IHSG Melejit di Akhir Pekan

Jakarta: Gerak indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga akhir penutupan perdagangan sore terus unjuk gigi. IHSG pun melesat di perdagangan akhir pekan.

Pantauan Medcom.id, Jumat, 12 Oktober 2018, IHSG melesat 53,668 poin atau setara 0,941 persen ke posisi 5.756. IHSG pada bel pembukaan perdagangan sempat melemah di level 5.722.

Adapun volume perdagangan sore ini tercatat sebanyak 7,39 miliar lembar senilai Rp7,09 triliun. Sebanyak 247 saham menguat, 148 saham melemah, 130 saham stagnan, dan terjadi 336.418 kali frekuensi.

Sementara itu indeks saham unggulan LQ45 menguat 9,14 poin atau setara 1,0 persen ke 902. Sedangkan indeks syariah JII naik 7,80 poin atau setara 1,2 persen ke 634.

Adapun sore ini mayoritas sektor bergerak di zona hijau, sektor infrastruktur memimpin penguatan sebesar 20,88 poin. Sementara sektor konsumer menjadi satu-satunya sektor yang melemah sebesar 10,0 poin.

Samuel Research Team menyatakan gerak IHSG akan terus menguat seiring penyelenggaraan pertemuan tahunan International Monetary Fund-Bank Dunia (IMF-WB) 2018.

Selama dua hari IHSG berhasil reli. Pada perdagangan Selasa 9 Oktober, IHSG ditutup menguat sebanyak 0,62 persen menuju level 5.796. Samuel Research Team melihat IHSG mampu menguat.

“Hal itu seiring dengan perhelatan IMF yang tergolong sukses, dan gerak nilai tukar rupiah yang cenderung stabil,” sebut Samuel Research Team, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018.

Patokan imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10-tahun naik menjadi 3,26 persen pada awal perdagangan Selasa 9 Oktober, level tertinggi sejak 2011, sebelum tergelincir menjadi sekitar 3,20 persen. Investor telah bergulat dengan suku bunga yang lebih tinggi, setelah serangkaian data ekonomi yang kuat keluar pekan lalu.

(HUS)

Mulai Menghijau, Rupiah Pagi Dibuka di Rp15.218/USD

Jakarta: Gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat pagi terlihat menguat tipis dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp15.235 per USD. Adapun kurs USD melemah ke level terendah dua minggu terhadap sejumlah mata uang pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB).

Mengutip Bloomberg, Jumat, 12 Oktober 2018, nilai tukar rupiah perdagangan pagi dibuka menghijau di Rp15.218 per USD. Sedangkan day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp15.192 hingga Rp15.218 per USD dengan year to date return di 12,17 persen. Sementara itu, menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.965 per USD.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average turun 545,91 poin atau 2,13 persen, menjadi ditutup di 25.052,83 poin. Indeks S&P 500 berkurang 57,31 poin atau 2,06 persen, menjadi berakhir di 2.728,37 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup turun 92,99 poin atau 1,25 persen, menjadi 7.329,06 poin.

Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 0,1 persen pada September, jauh di bawah kenaikan yang diharapkan sebesar 0,2 persen, menurut Departemen Tenaga Kerja AS. Indeks untuk semua item kecuali makanan dan energi, atau IHK-inti, naik 0,1 persen pada September, kenaikan yang sama seperti pada Agustus.

Laporan yang lebih lemah dari perkiraan adalah bagian dari alasan mengapa imbal hasil obligasi AS turun tipis. Patokan imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun diperdagangkan di 3,18 persen pada awal perdagangan, turun dari tertinggi tujuh tahun di 3,26 persen.

Para investor telah bergulat dengan kenaikan suku bunga selama sekitar satu minggu terakhir, di tengah data ekonomi yang kuat dan tanda-tanda inflasi. Tingkat pengangguran menurun menjadi 3,7 persen pada September, terendah dalam 49 tahun, menurut Departemen Tenaga Kerja AS.

Rata-rata penghasilan per jam untuk semua karyawan pada payroll non-pertanian swasta naik 8 sen AS menjadi USD27,24. Selama setahun, rata-rata penghasilan per jam telah meningkat 73 sen AS atau 2,8 persen. Laporan ini memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja mendekati pekerjaan penuh dan upah telah meningkat.

(ABD)

Pasar Modal Lesu jadi Penyebab Jiwasraya Tunda Pembayaran Klaim

Jakarta: PT Asuransi Jiwasraya (Persero) tengah menghadapi tekanan likuiditas. Alhasil, perusahaan asuransi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini menunda pembayaran polis jatuh tempo produk JS Proteksi Plan kepada sejumlah nasabah.

Pengamat asuransi Herris Simanjuntak menduga prediksi imbal hasil instrumen investasi milik Jiwasraya di pasar modal meleset. Ini mengingat kondisi pasar modal yang tengah lesu.

“Pada saat diinvestasikan di pasar modal, ternyata pasar modal kita lagi jeblok. Boro-boro return-nya lebih dari yang dijanjikan, malah menurut saya mungkin hasilnya di bawah itu,” ujar Herris lewat sambungan telepon kepada Medcom.id, Jakarta, Kamis, 11 Oktober 2018.

Umumnya, jelas dia, perusahaan asuransi menginvestasikan premi ke beberapa instrumen, salah satunya di pasar modal. Hal tersebut agar imbal hasil investasi mampu menebus premi yang dibayarkan nasabah, termasuk imbal hasil asuransi yang dijanjikan.

“Nah, untuk mencapai itu kan hasil investasinya harus lebih tinggi dari yang dijanjikan ke nasabah. Kalau misalnya ke nasabahnya dijanjikan 10 persen, dia harus bisa menginvestasikan dengan hasil 14 persen sampai 15 persen,” bebernya.

Sayangnya, Jiwasraya dinilai tak mampu mengelola premi dengan baik. Akibatnya, perusahaan asuransi pelat merah itu harus menombok.

“Misalnya dia janjikan 10 persen, tiba-tiba yang didapatkan hanya 8 persen, terpaksa dia nombok. Nomboknya bukan cuma ke nasabah karena ada biaya akuisisi, komisi, dan biaya-biaya kantor. Jadi ya jebol, itu risikonya,” tukas Herris.

Pengamat asuransi lainnya, Irvan Rahardjo, juga punya pandangan serupa. Malah dia bilang, ada tiga penyebab Jiwasraya terpaksa menunda pembayaran klaim.

“Penyebabnya kombinasi antara lemahnya governance (tata kelola), kurangnya compliance (kepatuhan), dan sangat mungkin lemahnya atau cacat produk yang dijual,” tukas Irvan.

Sebelumnya, beredar luas dokumen surat keterlambatan pembayaran Jiwasraya kepada sejumlah nasabah pemegang polis. Dalam surat pemberitahuan tersebut, keterlambatan pembayaran lantaran pemenuhan pendanaan masih dalam proses.

“Pembayaran klaim JS Proteksi Plan mengalami penundaan, dan atas hal tersebut kami menyampaikan permohonan maaf,” tulis dokumen yang ditandangani Direktur Keuangan Jiwasraya Danang Suryono dan Direktur Pemasaran Jiwasraya Indra Widjaja.

Dalam dokumen itu pula, Jiwasraya menjanjikan bunga sebesar 5,75 persen per annum (netto) sebagai kompensasi keterlambatan pembayaran.

“Kami berharap proses pendanaan tersebut dapat segera kami selesaikan. Oleh karena itu, kami juga berharap para pemegang polis Jiwasraya dapat memahami kondisi tersebut dan tidak perlu khawatir,” tutup surat bernomor 00668/Jiwasraya/K/1018.

(SAW)

Sekuritisasi Aset Picu Arus Modal ke Indonesia

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong (tengah) — Foto: Antara/ Jefri Tarigan

Jimbaran: Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan sekuritisasi atau menguangkan aset-aset infrastruktur ke pasar modal menjadi pemicu masuknya arus modal. Hal itu sangat diperlukan manakala nilai tukar rupiah terus tertekan.

“Apalagi di saat rupiah sedang tertekan, kita lebih membutuhkan lagi arus modal masuk,” kata Lembong dalam Infrastructure Forum 2018 sebagai bagian dari Pertemuan Tahunan IMF-WBG di Jimbaran, Bali, Kamis 11 Oktober 2018.

Lembong mengungkapkan cukup banyak investor asing, perusahaan asuransi dan reksa dana, yang tertarik untuk mempelajari instrumen-instrumen pembiayaan infrastruktur seperti sekuritisasi. Karenanya, pemerintah perlu lebih fleksibel dan dinamis mengakomodasi keinginan investor.

“Ini sudah lama menjadi prioritas Presiden Joko Widodo untuk lebih menggeser pendanaan infrastruktur ke swasta, dan yang lebih penting lagi ke pasar modal,” ungkapnya.

Apalagi investor di seluruh dunia sedang mengkhawatirkan gejolak nilai tukar. Sebab itu, sekuritisasi aset dalam bentuk dolar atau euro akan lebih nyaman bagi investor tanpa harus mengambil risiko dengan rupiah.

“Yang orang sering kali lupa banyak infrastruktur kita yang sebenarnya menghasilkan devisa. Kalau pesawat dari luar negeri mendarat, itu bayar landing fee pakai dolar. Kapal angkut kalau dari luar negeri bayar port fee atau iuran pelabuhan pakai dolar,” pungkas dia.

(Des)

Imbal Hasil Obligasi Diprediksi Tertekan Penguatan Rupiah

Jakarta: Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun diprediksi bergerak turun didorong oleh penguatan nilai tukar rupiah dan penurunan tajam imbal hasil treasury AS. Sebelumnya, penguatan imbal hasil obligasi AS membuat dolar Amerika Serikat (USD) perkasa dan ujungnya memberi tekanan terhadap sejumlah mata uang dunia.

“Imbal hasil SUN 10 tahun kemungkinan bergerak di rentang 8,40-8,59 persen,” kata Analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Kamis, 11 Oktober 2018.

Di sisi lain, ndeks Dow Jones Industrial Average menurun 831,83 poin atau 3,15 persen, menjadi berakhir di 25.598,74 poin. Indeks S&P 500 merosot 94,66 poin atau 3,29 persen, menjadi ditutup di 2.785,68 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir jatuh 315,97 poin atau 4,08 persen, menjadi 7.422,05 poin.

Sektor teknologi mengalami hari terburuk dalam tujuh tahun, mendorong Dow ke hari terburuknya dalam delapan bulan terakhir. Saham Amazon jatuh 6,15 persen, sementara Netflix menukik 8,38 persen. Facebook dan Apple juga masing-masing turun lebih dari empat persen

Sektor teknologi termasuk perusahaan-perusahaan terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar di Amerika Serikat dan mereka yang telah menjadi penyumbang terbesar terhadap perpanjangan pasar bullish. Ketakutan meningkatnya imbal hasil obligasi juga memberikan tekanan terhadap pasar saham.

Imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun yang dijadikan acuan, mencapai 3,26 persen pada Selasa 9 Oktober, level tertinggi sejak 2011. Pada Rabu 10 Oktober, imbal hasil surat utang pemerintah bertenor dua tahun mencapai 2,91 persen, level tertinggi dalam satu dekade terakhir.

(ABD)

Terseret Pelemahan USD, Rupiah Pagi Dibuka Rp15.223/USD

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali berbalik arah ke zona merah pada perdagangan Kamis pagi dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp15.200 per USD. Rupiah tidak mampu unjuk gigi meski USD tumbang akibat euro dan poundsterling Inggris terus menguat.

Mengutip Bloomberg, Kamis, 11 Oktober 2018, rupiah perdagangan pagi dibuka melemah sebanyak 23,8 poin atau setara 0,16 persen ke Rp15.223 per USD. Sedangkan day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp15.223 per USD dengan year to date return di 12,31 persen. Sementara itu, menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp15.035 per USD.

Di sisi lain, pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1525 dari USD1,1497 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris meningkat menjadi USD1,3199 dibandingkan dengan USD1,3146 di sesi sebelumnya. Dolar Australia jatuh ke USD0,7084 dari USD0,7100.

Sementara itu, USD membeli 112,57 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 113,04 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian USD turun menjadi 0,9920 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9921 franc Swiss, dan USD naik dari 1,3033 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,2944 dolar Kanada.

Sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average menurun 831,83 poin atau 3,15 persen, menjadi berakhir di 25.598,74 poin. Indeks S&P 500 merosot 94,66 poin atau 3,29 persen, menjadi ditutup di 2.785,68 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir jatuh 315,97 poin atau 4,08 persen, menjadi 7.422,05 poin.

Sektor teknologi mengalami hari terburuk dalam tujuh tahun, mendorong Dow ke hari terburuknya dalam delapan bulan terakhir. Saham Amazon jatuh 6,15 persen, sementara Netflix menukik 8,38 persen. Facebook dan Apple juga masing-masing turun lebih dari empat persen

Sektor teknologi termasuk perusahaan-perusahaan terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar di Amerika Serikat dan mereka yang telah menjadi penyumbang terbesar terhadap perpanjangan pasar bullish. Ketakutan meningkatnya imbal hasil obligasi juga memberikan tekanan terhadap pasar saham.

(ABD)

Pertemuan IMF-WB Buat IHSG Berpotensi Menguat

Jakarta: Pergerakan indeks Dow Jones dan S&P 500 di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) berakhir di zona merah di tengah kekhawatiran investor tentang prospek pertumbuhan ekonomi global. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,21 persen atau 56,21 poin ke level 26.430,57 dan indeks S&P 500 turun 0,14 persen ke 2.880,34.

Di sisi lain, Samuel Research Team mengungkapkan, indeks Nasdaq Composite mampu berakhir di zona positif meski hanya naik 0,03 persen atau 2,07 poin di level 7.738,02. Sedangkan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk 2018 dan 2019.

IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok di 2019 karena kedua negara itu akan merasakan dampak perang dagang di tahun depan. Presiden AS Donald Trump mengulangi ancaman untuk memberlakukan tarif terhadap impor tambahan Tiongkok senilai USD267 miliar jika Tiongkok melakukan aksi pembalasan.

Samuel Research Team menambahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil reli selama dua hari. Pada perdagangan Selasa 9 Oktober, IHSG ditutup menguat sebanyak 0,62 persen menuju level 5.796. Samuel Research Team melihat IHSG mampu kembali menguat.

“Hal itu seiring dengan perhelatan IMF yang tergolong sukses, dan gerak nilai tukar rupiah yang cenderung stabil,” sebut Samuel Research Team, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018.

Di sisi lain, ndeks Dow Jones Industrial Average turun 56,21 poin atau 0,21 persen menjadi berakhir di 26.430,57 poin, dan Indeks S&P 500 turun 4,09 poin atau 0,14 persen, menjadi ditutup di 2.880,34 poin. Sedangkan, Indeks Komposit Nasdaq meningkat 2,07 poin atau 0,03 persen, menjadi berakhir di 7.738,02 poin.

Patokan imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10-tahun naik menjadi 3,26 persen pada awal perdagangan Selasa 9 Oktober, level tertinggi sejak 2011, sebelum tergelincir menjadi sekitar 3,20 persen. Investor telah bergulat dengan suku bunga yang lebih tinggi, setelah serangkaian data ekonomi yang kuat keluar pekan lalu.

(ABD)

Rupiah Mulai Perkasa ke Rp15.213/USD

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu pagi terlihat menguat tipis dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp15.237 per USD. USD turun dari level tertinggi tujuh pekan terhadap sejumlah mata uang akibat penurunan imbal hasil obligasi AS.

Mengutip Bloomberg, Rabu, 10 Oktober 2018, perdagangan pagi dibuka melonjak ke Rp15.213 per USD. Sedangkan day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp15.202 hingga Rp15.216 per USD dengan year to date return di 12,42 persen. Sementara itu, menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.990 per USD.

Di sisi lain, indeks yang melacak USD terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,11 persen menjadi 95,651. Para investor membuang obligasi AS pekan lalu di tengah kekhawatiran bahwa inflasi domestik mungkin meningkat, mendorong Federal Reserve AS untuk mempercepat laju kenaikan suku bunganya.

Pada Selasa, imbal hasil obligasi 10 tahun AS yang dijadikan sebagai acuan, naik ke tertinggi tujuh tahun di 3,261 persen sebelum mundur kembali menjadi 3,2101 persen karena harga ekuitas yang lebih lemah dan kekhawatiran tentang pertumbuhan global.

Euro dibantu oleh laporan Dow Jones bahwa kesepakatan tentang persyaratan bagi Inggris untuk meninggalkan blok ekonomi dapat dicapai secepatnya Senin 15 Oktober. Mata uang tunggal telah melemah sebelumnya karena kekhawatiran tentang ketegangan antara Uni Eropa dan Italia atas anggaran negara itu.

Sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average turun 56,21 poin atau 0,21 persen menjadi berakhir di 26.430,57 poin, dan Indeks S&P 500 turun 4,09 poin atau 0,14 persen, menjadi ditutup di 2.880,34 poin. Sedangkan, Indeks Komposit Nasdaq meningkat 2,07 poin atau 0,03 persen, menjadi berakhir di 7.738,02 poin.

Tingkat pengangguran menurun menjadi 3,7 persen pada September, dan total lapangan kerja non-pertanian meningkat sebesar 134 ribu pekerjaan, Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan. Pada September, rata-rata penghasilan per jam untuk semua karyawan pada penggajian non-pertanian swasta meningkat 8 sen AS menjadi USD27,24.

(ABD)

Pasar Modal jadi Pusat Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur

Benoa: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong industri pasar modal menjadi pusat sumber pendanaan pembangunan infrastruktur nasional yang lebih sesuai dengan karakter kebutuhan pembiayaan untuk jangka panjang. Langkah ini diharapkan mempermudah pembangunan infrastruktur yang mampu menjawab berbagai macam persoalan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan langkah tersebut telah menjadi paradigma baru yaitu menjadikan industri pasar modal sebagai pusat sumber pendanaan. Ini juga merupakan terobosan bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.

“Yang sebelumnya selalu mengandalkan sektor perbankan menjadi sumber utama pembiayaan selama beberapa dekade,” kata Wimboh Santoso, dalam sebuah seminar bertajuk ‘A New Paradigm on Infrastructure Financing‘, di Bali, Selasa, 9 Oktober 2018.

Menurutnya OJK akan mengarahkan pasar modal di Indonesia menjadi lebih dalam dan likuid dengan menambah berbagai instrumen pembiayaan melalui pasar modal, seperti lewat obligasi atau sukuk, obligasi perpetual, obligasi hijau, obligasi daerah (municipal), dan obligasi komodo, serta pembiayaan dari keuangan campuran.

“Pasar modal yang dalam dan likuid merupakan solusi untuk ketersediaan pendanaan yang masif dan jangka waktu yang panjang, sehingga liquidity mismatch dapat teratasi karena pendanaan dapat disesuaikan dengan jangka waktu proyek infrastruktur,” kata Wimboh.

Selain itu, OJK juga telah mendorong sejumlah perusahaan untuk melakukan sekuritisasi aset untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur. Sementara untuk meningkatkan infrastruktur pasar modal, OJK telah mengeluarkan sejumlah program seperti pembangunan sistem pendaftaran elektronik, pengembangan Perusahaan Efek Daerah, dan sistem e-Bookbuilding.

Menurut Wimboh dengan kebijakan pemerintah yang fokus pada pengembangan infrastruktur maka peran pasar modal dalam pembiayaan infrastruktur menjadi semakin penting. Pembangunan pasar modal sama pentingnya dengan infrastruktur karena masing-masing berkontribusi pada percepatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan nasional.

Berbagai ketentuan untuk produk pasar modal yang bisa membiayai infrastruktur sudah dikeluarkan OJK, antara lain Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) yang telah dimanfaatkan dalam pembiayaan pembangunan Soekarno–Hatta Airport Sky Train melalui RDPT Danareksa BUMN Fund 2016 Infrastruktur sebesar Rp315 miliar dan RDPT Mandiri Infrastruktur Ekuitas Transjawa sebesar Rp5 triliun untuk membangun jalan tol.

Selain itu, OJK juga sudah mengeluarkan ketentuan mengenai penerbitan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA), yang antara lain juga telah dimanfaatkan dalam pembangunan jalan tol melalui KIK EBA Mandiri JSMRR01 Rp2 triliun dan KIK EBA Danareksa Indonesia Power PLN Rp4 triliun dan EBA Mandiri GIAA01 sebesar Rp2 triliun.

Khusus untuk pembangunan perumahan, OJK sudah mengeluarkan ketentuan mengenai Dana Investasi Real Estate (Dire), yang sudah dimanfaaatkan beberapa perusahaan pengembang seperti di Solo dan Pekanbaru.

Selain itu, juga sudah dikeluarkan ketentuan mengenai Dana Investasi Infrastruktur Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (DINFRA) yang sudah digunakan dalam pembiayaan proyek Meikarta City, Dinfra Bowsprit Aoyama Commercial Fund dan DINFRA toll road MandiriJPT-001.

(ABD)

Rupiah Diperkirakan Tumbang

Jakarta: Dolar Amerika Serikat (USD) diprediksi menguat ke level 95,5-95,9 terhadap hampir semua mata uang kuat dunia. Penguatan USD ditopang oleh keputusan People’s Bank of China (PBOC) yang menurunkan reserve requirement perbankan sebesar satu persen di Oktober guna mendorong pertumbuhan ekonomi negara tersebut di tengah risiko perang dagang dengan AS.

Analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail mengatakan penurunan reserve requirement tersebut mendorong pelemahan yuan sebesar 0,69 persen pada seminggu terkahir ke level 6,92 per USD dan ikut memperlemah mata uang emerging market lainya termasuk Indonesia.

“Rupiah kemungkinan melemah ke level Rp15.200 hingga Rp15.280 per USD,” kata Ahmad Mikail, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Selasa, 9 Oktober 2018.

Sementara itu, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan bergerak naik didorong oleh pelemahan rupiah dan stabilnya imbal hasil treasury AS jelang lelang SUN hari ini. Imbal hasil SUN 10 tahun kemungkinan bergerak di rentang 8,42-8,60 persen. Rekomendasi seri obligasi negara FR0077; FR0078; FR0072; dan FR0075.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average naik 39,73 poin atau 0,15 persen menjadi berakhir di 26.486,78 poin. Sedangkan, indeks S&P 500 turun 1,14 poin atau 0,04 persen, menjadi berakhir di 2.884,43 poin, serta Indeks Komposit Nasdaq ditutup turun 52,50 poin atau 0,67 persen, menjadi 7.735,95 poin.

Data ekonomi yang kuat dan komentar dari pejabat utama Federal Reserve telah memicu lonjakan suku bunga obligasi pekan lalu. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10-tahun menyentuh 3,24 persen dan mencapai tertinggi baru 7 tahun pada Jumat 5 Oktober.

Tingkat pengangguran menurun menjadi 3,7 persen pada September, dan total lapangan kerja non-pertanian meningkat sebesar 134 ribu pekerjaan, Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan. Kenaikan lapangan pekerjaan terjadi di bidang jasa-jasa profesional dan bisnis, di perawatan kesehatan, serta di bidang transportasi dan pergudangan.

(ABD)

Rupiah Kembali Tertekan ke Level Rp15.198/USD

Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah kembali terdepresiasi pada pembukaan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda terus melanjutkan tren pelemahan dari kisaran angka Rp15.183 per USD.

Berdasarkan data Bloomberg, Senin 8 Oktober 2018, mata uang rupiah mengalami pelemahan dengan mencapai Rp15.198 per USD atau menurun sebesar 11 poin atau 0,07 persen ketimbang penutupan perdagangan pada pekan lalu.

Sementara data Yahoo Finance menunjukan adanya penurunan nilai tukar rupiah dengan berada pada Rp15.195 per USD atau mengalami penurunan sebesar 20 poin atau 0,13 persen dari posisi sebelumnya.

Kondisi ini serupa dengan data yang dipublikasikan Bank Indonesia (BI) yang menunjukan kurs mata uang rupiah terhadap mata uang dolar AS bergerak turun ke posisi Rp15,193 per USD.

Sementara itu, Senior Analyst CSA Research Reza Priyambada memprediksi gerak rupiah hari ini akan berada di rentang Rp15.169 sampai Rp15.182 per dolar Amerika Serikat (USD). Pemicunya adalah laju USD yang mengalami perlambatan.

“Pergerakan USD pun terlihat melambat setelah dirilisnya angka pertumbuhan gaji (nonfarm payrolls) AS yang naik di bawah ekspektasi,” jelas Reza dalam riset hariannya, Senin 8 Oktober 2018.

(Des)

Gerak Rupiah Diperkirakan Rebound

Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Yudhi Mahatma)

Jakarta: Depresiasi nilai tukar mata uang rupiah hari ini diperkirakan akan sedikit mereda. Rupiah diprediksi bakal mengalami jeda pelemahan dan bergerak rebound.

Senior Analyst CSA Research Reza Priyambada memprediksi gerak rupiah hari ini akan berada di rentang Rp15.169 sampai Rp15.182 per dolar Amerika Serikat (USD). Pemicunya adalah laju USD yang mengalami perlambatan.

“Pergerakan USD pun terlihat melambat setelah dirilisnya angka pertumbuhan gaji (nonfarm payrolls) AS yang naik di bawah ekspektasi,” jelas Reza dalam riset hariannya, Senin 8 Oktober 2018.

Menurutnya, posisi rupiah saat ini berada di area oversold. Hal tersebut akan membuat pelemahan mata uang Garuda menjadi terbatas.

“Pelemahan menjadi terbatas mengingat pergerakan rupiah yang telah berada di area oversold-nya. Diharapkan rilis pertumbuhan gaji dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah,” kata Reza.

Reza menambahkan, belum adanya sentimen positif dari dalam negeri membuat rupiah hanya menguat tipis pada perdagangan akhir pekan lalu. Banyak pelaku pasar justru mengambil posisi USD lantaran khawatir dengan meningkatnya nilai mata uang safe heaven tersebut.

Selain itu, penguatan tipis rupiah juga dipicu kenaikan harga minyak mentah dunia dan penurunan cadangan devisa.

Pada perdagangan akhir pekan lalu pergerakan nilai tukar rupiah terhadap USD menguat tipis. Mengutip data Bloomberg, Jumat, 5 Oktober 2018, rupiah diperdagangkan menguat ke Rp15.183 per USD dibandingkan perdagangan pagi di Rp15.183 per USD.

Sementara mengutip data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp15.180 per USD. Rupiah menguat hingga 20 poin atau setara 0,13 persen. Sedangkan melihat data kurs tengah Bank Indonesia, Jisdor, rupiah berada di Rp15.182 per USD.

(Des)

Investor Asing Bukukan Jual Bersih Rp2,39 Triliun

Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp2,39 triliun di sepanjang pekan ini dan sepanjang 2018 investor asing telah mencatatkan jual bersih mencapai Rp53,56 triliun. BEI berharap kondisi pasar modal di Indonesia bisa terus membaik di masa-masa mendatang.

Mengutip keterangan resmi BEI, Sabtu, 6 Oktober 2018, rata-rata nilai transaksi harian BEI selama sepekan terakhir berubah sebanyak 3,13 persen menjadi Rp6,96 triliun dari Rp7,18 triliun sepekan sebelumnya. Sedangkan rata-rata frekuensi transaksi harian BEI naik sebanyak 12,95 persen menjadi 383,14 ribu kali transaksi dari 339,21 ribu kali transaksi.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini ditutup dengan perubahan sebesar 4,09 persen ke level 5.731,93 poin dari 5.976,55 poin pada pekan sebelumnya. Sedangkan, nilai kapitalisasi pasar pada pekan ini berubah 4,08 persen ke posisi Rp6.462,42 triliun dari Rp6.737,43 triliun pada pekan sebelumnya.

Pada awal pekan Oktober, BEI berhasil menambah tiga perusahaan tercatat yaitu pertama PT Satria Antaran Prima Tbk dengan kode saham SAPX dan menjadi perusahaan tercatat ke-38 tahun ini. SAPX tercatat pada papan pengembangan BEI dan masuk ke dalam sektor Infrastructure, Utilities & Transportation.

Kedua, PT Super Energy Tbk dengan kode saham SURE yang merupakan perusahaan tercatat ke-39. Ketiga, PT Cottonindo Ariesta Tbk dengan kode saham KPAS yang merupakan perusahaan tercatat ke-40 di 2018. SURE berada pada sektor Mining, sedangkan KPAS berada pada sektor Consumer Goods Industry.

Lebih lanjut, dalam rangka meningkatkan literasi pasar modal di kalangan akademisi dan masyarakat sekitar, BEI kembali meresmikan Galeri Investasi BEI yang berlokasi di Universitas Galuh Ciamis yang merupakan kerja sama antara BEI dengan Universitas Galuh Ciamis dan PT Reliance Sekuritas Indonesia.

Dengan peresmian tersebut, sampai dengan saat ini galeri investasi di Indonesia berjumlah 403 Galeri Investasi BEI. GI BEI Universitas Galuh Ciamis merupakan Galeri ke-83 yang diresmikan di tahun ini dan merupakan Galeri Investasi ke-29 di Jawa Barat.

(ABD)

Analis: Rupiah Catat Rekor Terendah sejak Krisis Ekonomi

Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali mencatat rekor terendah pada perdagangan hari ini. Rupiah merosot ke level yang tak pernah tersentuh sejak krisis finansial 1998 yaitu Rp15.178 per USD.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menjelaskan depresiasi rupiah dipicu tiga hal yakni ketegangan dagang AS-Tiongkok yang memburuk, kenaikan harga minyak, dan dolar AS yang secara umum menguat.

Menurut dia prospek kenaikan suku bunga AS berpotensi mempercepat arus keluar modal dari pasar berkembang, sehingga rupiah tetap rentan mengalami kejutan negatif.

“Ekspektasi akan semakin besar bahwa Bank Indonesia (BI) akan kembali meningkatkan suku bunga untuk menolong rupiah, namun ini sepertinya tak dapat membantu banyak untuk membatasi penurunan nilai rupiah,” kata dia dalam hasil risetnya, Jumat, 5 Oktober 2018.

Dia mengatakan asumsi ini berdasarkan fakta bahwa rupiah tetap terperosok walaupun BI telah meningkatkan suku bunga sebanyak lima kali sejak Mei tahun ini.

Arah pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal sehingga prospek jangka pendek hingga menengah tetap bearish. Dari aspek teknis, USD-IDR tetap sangat bullish di grafik harian. Penutupan harian di atas Rp15.000 per USD dapat memicu kenaikan menuju Rp15.300 per USD bahkan lebih.

Rilis Laporan Lapangan Kerja AS, Dolar Stabil

Selain itu pekan trading ini sangat positif bagi dolar Amerika Serikat. Sebagian besar data ekonomi dari Eropa, Inggris, Tiongkok, dan negara lainnya memberi kejutan negatif, namun ekonomi AS masih berkibar.

Ini dapat semakin mendukung apresiasi Dolar di jangka pendek dan tidak akan mengejutkan apabila indeks dolar melampaui level tertinggi Agustus yaitu 97.

Sebagian investor mungkin ingin menunggu konfirmasi dari laporan NFP Jumat sebelum menambah posisi bullish. Mengingat komponen tenaga kerja dari laporan ISM non-manufaktur melesat ke rekor tertinggi dan data ADP melampaui ekspektasi sebesar 45 ribu lapangan kerja, saya menduga NFP juga akan melampaui ekspektasi.

“Walau demikian, saya lebih tertarik mencermati data pertumbuhan upah, karena kejutan positif akan memicu ekspektasi bahwa inflasi akan melampaui target dua persen dan Fed mungkin perlu memperketat kebijakan lebih cepat dari proyeksi,” jelas dia.

Dari sudut pandang teknis, indeks dolar tetap sangat bullish di grafik harian. Penutupan harian di atas 96,00 dapat membuka jalan untuk peningkatan menuju 96,40.

Harga Minyak Terbantu Isu Oversuplai

Harga minyak berada mendekati level tertinggi empat tahun menjelang sanksi AS terhadap Iran dan penurunan produksi dari Venezuela. Ketidakpastian prospek pasokan minyak global dapat memicu masalah pasokan, sehingga harga minyak akan tetap terangkat di jangka pendek. Dari aspek teknis, WTI Brent tetap sangat bullish dengan level bidikan USD87,20.

Emas Terombang-ambing

Emas tetap terombang-ambing oleh sejumlah faktor fundamental yang bertolak belakang. Dolar yang menguat secara umum dan prospek kenaikan suku bunga AS sangat menekan logam mulia ini.

Walau demikian, ketidakpastian seputar utang Italia dan ketegangan dagang AS-Tiongkok mendorong pasar untuk mencari aman dan pada akhirnya menguntungkan bagi emas sebagai instrumen safe haven.

Aksi harga yang tidak bergairah menyiratkan bahwa logam mulia ini memerlukan pemicu baru untuk mendorong pergerakan signifikan berikutnya. Data NFP yang kuat dan isyarat kenaikan pertumbuhan upah dapat membuat emas melemah.

(AHL)

Rupiah Terdongkrak

Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)

Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan akhir perdagangan sore ini menguat tipis.

Rupiah sebelumnya diperkirakan melemah seiring dengan menguatnya indeks dolar yang bergerak ke level 95,7-96 terhadap beberapa mata uang kuat utama lainnya di dunia.

Mengutip data Bloomberg, Jumat, 5 Oktober 2018, rupiah diperdagangkan menguat ke Rp15.183 per USD dibandingkan perdagangan pagi di Rp15.183 per USD.

Gerak rupiah menguat hingga mencapai empat poin atau setara 0,03 persen. Adapun rentang gerak rupiah sepanjang hari berada di Rp15.165-Rp15.193 per USD.

Sementara mengutip data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp15.180 per USD. Rupiah menguat hingga 20 poin atau setara 0,13 persen. Sedangkan melihat data kurs tengah Bank Indonesia, Jisdor, rupiah berada di Rp15.182 per USD.

Analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail sebelumnya memprediksikan gerak rupiah akan terbebani penguatan harga minyak yang berada di level USD76 per barel.

Selain itu, pelemahan euro terhadap dolar juga menjadi pemicu melempemnya mata uang Garuda. Sejumlah politisi di Italia mendorong Italia keluar dari zona euro untuk memperbaiki negara itu membuat euro lemah.

(AHL)

Penyebab Rupiah Anjlok

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)

Jakarta: Bank Indonesia (BI) mengakui nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian terjerembab seiring berlanjutnya ketegangan perdagangan antara AS dengan Tiongkok. Faktor geopolitik di negara-negara Eropa juga turut menyeret pelemahan mata uang Garuda.

“Ada sejumlah faktor-faktor geopolitik, apakah terkait di Eropa maupun di tempat lain. Faktor-faktor itu yang memengaruhi perkembangan nilai tukar,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Komplek BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 5 Oktober 2018.

Selain itu, jelas Perry, perkembangan nilai tukar rupiah dipengaruhi sentimen risk on dan risk off. Risk on merupakan upaya investor untuk mengambil keuntungan, sementara risk off adalah upaya investor untuk menghindari risiko di pasar keuangan.

Dalam beberapa hari terakhir, sentimen risk off menekan nilai tukar rupiah. Kenaikan suku bunga obligasi Pemerintah AS hingga 3,23 persen membuat pertumbuhan lapangan kerja di Negeri Paman Sam lebih besar dari perkiraan.

“Ini menunjukkan ekonomi Amerika Serikat menguat. Dan karena itu, lagi-lagi dalam kondisi ini investor global lebih preference investasi di sana,” imbuhnya.

Pada perdagangan Jumat pagi, 5 Oktober 2018, rupiah terlihat masih terpukul ke zona merah dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp15.179 per USD.

Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah perdagangan pagi dibuka tertekan ke Rp15.189 per USD. Sedangkan day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp15.189 hingga Rp15.193 per USD dengan year to date return di 12,08 persen. Sementara data Yahoo Finance mencatat nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.966 per USD.

(AHL)

Jadi Emiten ke-40, Saham KPAS Melesat

Ilustrasi. (FOTO: MI/Rommy Pujianto)

Jakarta: PT Cottonindo Ariesta Tbk secara resmi mencatatkan saham perdana melalui skema Initial Public Offering (IPO) dalam Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan kode emiten KPAS, Cottonindo Ariesta jadi perusahaan ke-40 yang mencatatkan saham perdana di bursa dan jadi emiten ke-603 sepanjang bursa efek berdiri.

Saat perdagangan awal, di Gedung BEI, Jakarta, Jumat, 5 Oktober 2018, saham KPAS melejit 69 persen ke Rp284 per saham atau naik 116 poin dari pencatatan perdana dibuka di harga Rp168 per saham.

Pada posisi tersebut saham KPAS diperdagangkan sebanyak satu kali frekuensi dengan volume satu lot saham dan menghasilkan nilai sebesar Rp28.400.

KPAS merupakan perusahaan di bidang industri farmasi melepas sebanyak 268 juta lembar saham dengan harga Rp168, sedangkan dana yang bakal diraup senilai Rp45,024 miliar.

Cottonindo juga akan menerbitkan 67 juta waran seri I bersama dengan saham baru sebesar 13,40 persen dari total modal yang ditempatkan dan disetor. Waran seri I ini diberikan kepada pemegang saham secara gratis sebagai insentif bagi para pemegang saham baru yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham pada Tanggal Penjatahan.

Harga penawaran surat perintah I adalah Rp260 dengan nilai total Rp17,42 miliar. Sekitar 75 persen dari hasil IPO akan digunakan untuk memperoleh tanah dan sisanya 25 persen untuk belanja modal.

(AHL)

Melejit saat IPO, Saham SURE Kena Auto Rejection

Direktur Utama Super Energy Agustinus Sani Nugroho (kiri). (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

Jakarta: PT Super Energy Tbk secara resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Initial Public Offering (IPO). Dengan kode emiten SURE, Super Energy jadi perusahaan ke-39 yang mencatatkan saham perdana di lantai bursa.

Pada aksi korporasi ini, Super Energy menetapkan harga IPO sebesar Rp155 per saham. Angka ini berada di tengah kisaran awal harga IPO yaitu antara Rp150-Rp160 per saham.

Perusahaan yang bergerak di dalam bidang perdagangan minyak, gas bumi, dan bidang investasi ini menawarkan 240 juta saham ke publik. Dengan demikian, Super Energy bakal mengantongi dana IPO sekitar Rp37,2 miliar melalui IPO.

“Rencananya dana hasil IPO ini akan digunakan untuk melunasi utang penyuplai dan rekanan kerja lain,” kata Direktur Utama Super Energy Agustinus Sani Nugroho, di Gedung BEI, Kawasan SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat, 5 Oktober 2018.

Pada perdagangan awal, saham SURE melejit 69 persen ke Rp262 per saham dari pencatatan perdana dibuka di harga Rp155 per saham. Otomatis saham SURE langsung terkena auto rejection.

Pada posisi tersebut saham SURE diperdagangkan sebanyak satu kali frekuensi dengan volume 100 lot saham dan menghasilkan nilai sebesar Rp2,62 juta.

Untuk diketahui, Super Energy menunjuk PT Erdikha Elit Sekuritas, PT Ekuator Swarna Sekuritas, PT Panin Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Bersamaan dengan penerbitan saham baru, Super Energy juga merilis 297,5 juta saham baru dalam rangka pelaksanaan konversi mandatory convertible bond (MCB) senilai Rp46,124 miliar.

(AHL)

Konsorsium akan Suntik Dana Segar ke Bank Muamalat

Jakarta: Komisaris Utama Bank Muamalat Ilham Habibie yang memimpin konsorsium investor berkomitmen untuk melakukan sejumlah upaya penguatan pada PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (Bank Muamalat).

Hal itu dilakukan lantaran Bank Muamalat sebagai bank pertama murni syariah yang memiliki nilai historis dan emosional bagi umat Islam di seluruh Indonesia.

“Konsorsium akan melakukan serangkaian penguatan, salah satunya adalah penyuntikan dana segar melalui right issue,” ujar Ilham melalui rilis yang diterima, Rabu, 3 Oktober 2018.

Sebagai informasi, Ilham sebagai Komisaris Utama Bank Muamalat ditunjuk untuk memimpin konsorsium investor yang terdiri dari dirinya, Lynx Asia, SSG Capital, dan Keluarga Panigoro.

Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K Permana menyampaikan dengan adanya kepastian konsorsium investor yang telah masuk tersebut akan sangat membantu penguatan Bank Muamalat saat ini dan rencana bisnis ke depannya.

“Kami yakin dengan kehadiran Ilham Habibie yang memimpin konsorsium investor akan memberikan keyakinan kepada para nasabah dan pemangku kepentingan Bank Muamalat,” kata dia.

Dia melanjutkan sebagai bagian dari rencana penguatan Bank Muamalat, pihaknya akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 11 Oktober 2018 yang salah satu agendanya adalah right issue.

“Ke depan, perseroan optimistis permodalan Bank Muamalat akan semakin kuat dan stabil, sehingga upaya perseroan untuk melakukan ekspansi pembiayaan dapat berjalan dengan baik,” tutup Permana.

Saat ini Bank Muamalat membutuhkan suntikan dana untuk bisa berekspansi usaha. Bank Muamalat menghadapi masalah permodalan sejak 2015. Puncaknya pada 2017, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) turun menjadi 11,58 persen.

Kinerja Bank Muamalat tergerus oleh lonjakan pembiayaan bermasalah (non-performing finance/NPF). NPF bank syariah itu bahkan sempat di atas lima persen, lebih tinggi daripada batas maksimal ketentuan regulator. Akan tetapi, pada kuartal I-2018 NPF bank tersebut membaik ke level 4,76 persen. (Media Indonesia)

(AHL)

KIBIF Targetkan Bisa IPO Akhir Tahun

Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Jakarta: PT Estika Tata Tiara (KIBIF) menggelar mini expose di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam rangka penawaran umum perdana (IPO) saham perseroan di BEI.

Direktur Utama KIBIF Yustinus Sadmoko mengatakan perseroan menargetkan IPO saham pada 4 Desember 2018.

“Kami akan menawarkan saham KIBIF ke publik,” kata Yustinus melalui keterangannya, di Jakarta, Rabu, 3 Oktober 2018.

Perseroan menunjuk PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai pelaksana penjamin emisi saham perseroan.

Adapun dana perolehan IPO saham akan digunakan untuk perluasan usaha, peningkatan kapasitas dan produksi, serta pembenahan logistik dan distribusi.

KIBIF merupakan pelopor usaha dengan bisnis model terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai pengolahan dan perdagangan sapi, ayam, ikan, frozen dough, agrobisnis, peternakan, serta kegiatan produksi, hingga distribusi makanan olahan bermerek.

KIBIF juga memperkenalkan dan memiliki beberapa merek makanan olahan kepada konsumen di Tanah Air, antara lain yakni Boss, Murato, Adell, dan Kipau. (Media Indonesia)

(AHL)

Sempat Tidak Dicolek Investor, Saham SAPX Naik 49,6%

Pencatatan saham Satria Antaran Prima di BEI. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

Jakarta: Proses pencatatan perdana saham pagi ini tidak seperti biasanya. Pasalnya saham PT Satria Antaran Prima Tbk yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama beberapa saat sempat tidak dicolek investor.

PT Satria Antaran Prima Tbk hari ini menjadi perusahaan ke-38 yang tercatat di 2018. Berkode SAPX, perusahaan melepas saham sebanyak 433,33 juta saham ke publik dengan harga penawaran Rp250 per saham.

Namun ketika dicatatkan pertama kali saham perusahaan ini tidak bergerak. Artinya, tidak ada transaksi saat pertama kali resmi dicatatkan.

Setelah tiga menit, baru saham perusahaan melonjak 49,6 persen atau menguat Rp174 dari harga penawaran umum Rp250 menjadi Rp374. Pada level itu saham SAPX telah ditransaksikan sebanyak satu lot dalam satu kali frekuensi transaksi dengan nilai Rp37.400.

Lantai bursa sempat hening beberapa saat melihat tidak ada pergerakan saham tersebut, namun Presiden Direktur Satria Antaran Prima Budianto Darmastono tetap optimistis sahamnya akan diminati investor.

“Animo pemesanan sangat tinggi. Jumlah pemesanan saham mencatatkan tiga kali lipat dari dana yang kami himpun dari IPO,” kata Budianto, di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu, 3 Oktober 2018.

Perusahaan menargetkan dari aksi korporasi ini dana yang dihimpun bisa mencapai sebanyak Rp108,3 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk pelunasan utang obligasi yang telah diterbitkan pada November 2016 dan sisanya akan digunakan sebagai modal kerja.

Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan dengan terus bertambahnya perusahaan tercatat akan memberikan pilihan bagi investor untuk berinvestasi.

“Kami berharap dengan tercatatnya Satria Antaran Prima dapat memberikan tambahan pilihan investasi untuk investor kita,” pungkas Nyoman.

(AHL)

Rupiah Diperkirakan Stabil di Rp15.010/USD

Jakarta: Indeks dolar Amerika Serikat (UDS) diperkirakan bergerak sideways ke level 95,4-95,5 terhadap beberapa mata uang kuat utama dunia lainya. Euro masih melemah terhadap USD seiring kekhawatiran akan defisit anggaran Pemerintah Italia yang lebih tinggi dari seharusnya.

Analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail mengatakan rupiah melemah cukup dalam kemarin didorong kenaikan harga minyak yang cukup tinggi seiring turunya suplai minyak di pasaran dunia akibat sanksi Amerika Serikat terhadap Iran. Selain itu, tensi perang dagang antara AS-Tiongkok terus meruncing.

“Rupiah kemungkinan bergerak stabil di level Rp15.010 hingga Rp15.060 per USD,” sebut Ahmad Mikail, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Rabu, 3 Oktober 2018.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average meningkat 122,73 poin atau 0,46 persen menjadi ditutup pada 26.773,94 poin. Indeks S&P 500 turun 1,16 poin atau 0,04 persen menjadi berakhir di 2.923,43 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup turun 37,76 poin atau 0,47 persen menjadi 7.999,55 poin.

Saham Intel melonjak 3,55 persen pada penutupan, memimpin para pemenang dalam indeks 30 saham utama. Dow juga didorong oleh nama-nama seperti Boeing dan Caterpillar karena investor tetap optimistis pada perusahaan-perusahaan yang sensitif perdagangan, menyusul kesepakatan yang dinegosiasikan antara Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Saham Caterpillar dan Boeing, perusahaan dengan eksposur pendapatan luar negeri yang tinggi, keduanya naik lebih dari satu persen. Saham Apple juga naik. Selasa 2 Oktober  menandai rekor penutupan tertinggi pertama Dow sejak 21 September.

S&P 500 berada di sekitar garis datar, dengan tujuh dari 11 sektor primernya ditutup lebih tinggi. Sektor utilitas naik 1,29 persen, memimpin penguatan dari 11 sektor utama, sementara sektor konsumen diskresioner turun 1,43 persen, memimpin penurunan.

(ABD)

IHSG Berpeluang Sideways

Jakarta: Bursa saham Amerika Serikat (AS) mayoritas menguat pada perdagangan terakhirnya seiring tercapainya kesepakatan perdagangan antara AS, Meksiko, dan Kanada, di mana kesepakatan itu akan dinamakan USMCA. Namun demikian, perang dagang antara AS dan Tiongkok masih terus berlangsung.

Sejumlah pejabat AS menyatakan perundingan antara kedua negara itu belum menunjukkan kemajuan. Sekretaris Pertahanan AS diberitakan membatalkan kunjungannya ke Tiongkok seiring memburuknya kondisi perang dagang. Dari pasar komoditas, harga minyak dunia sempat menguat 2,7 persen kemarin dan pagi ini agak terkoreksi di sekitar USD85 per barel.

“Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan relatif sideways melihat dari bursa AS yang ditutup bervariasi, dengan EIDO yang melemah dan sejumlah bursa pagi ini yang menguat tipis,” ungkap Samuel Research Team, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Selasa, 2 Oktober 2018.

Data inflasi domestik di September yang mengindikasikan depresiasi rupiah tidak banyak mendorong imported inflation, tambah Samuel Research Team, menjadi angin segar di tengah negatifnya sentimen eksternal dari perang dagang.

“Selain itu, adapula berita negatif dari PMI Indonesia yang turun dari 51,9 pada Agustus menjadi 50,7 pada September yang dipicu oleh depresiasi rupiah,” sebut Samuel Research Team.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average naik 192,90 poin atau 0,73 persen menjadi berakhir di 26.651,21 poin. Indeks S&P 500 meningkat 10,61 poin atau 0,36 persen menjadi ditutup di 2.924,59 poin. Sedangkan Indeks Komposit Nasdaq turun 9,05 poin atau 0,11 persen, menjadi berakhir di 8.037,30 poin.

Saham Ford dan General Motors keduanya melonjak lebih dari satu persen menyusul berita kesepakatan perdagangan trilateral. Saham-saham sensitif perdagangan seperti Boeing juga ditutup 2,79 persen lebih tinggi.

Kanada dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan, bersama Meksiko untuk perjanjian perdagangan bebas baru, yang disebut Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA), menurut pernyataan bersama dari AS dan Kanada. USMCA akan menggantikan NAFTA yang berusia 24 tahun.

(ABD)

IHSG Pagi Merekah

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa pagi terlihat dibuka menghijau di tengah kesepakatan perdagangan baru antara Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko menggantikan NAFTA. Meski demikian, tetap perlu diwaspadai hadirnya efek negatif dari masih berlangsungnya perang dagang antara AS dan Tiongkok.

IHSG Selasa, 2 Oktober 2018, perdagangan pagi dibuka menguat sebanyak 2,65 poin atau setara 0,0 persen ke posisi 5.947. Sedangkan LQ45 melonjak sebanyak 0,66 poin atau setara 0,1 persen ke posisi 942, dan JII melesat sebanyak 0,78 poin atau setara 0,1 persen ke posisi 663.

Pagi ini, seluruh sektor didominasi di zona hijau. Sektor manufaktur naik sebanyak 4,06 poin, sektor pertambangan menguat sebanyak 3,08 poin, sektor perdagangan melesat 0,42 poin, dan sektor properti terangkat 0,04 poin. Sedangkan sektor infrastruktur melemah sebanyak 4,95 poin dan sektor konsumer turun 0,02 poin.

Adapun volume perdagangan pagi tercatat sebanyak 216 juta lembar saham senilai Rp209 miliar. Sebanyak 126 saham tercatat melesat, sebanyak 59 saham terpantau tertekan, sebanyak 134 saham tidak berubah, dan sebanyak 341 saham tidak mengalami perdagangan.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average naik 192,90 poin atau 0,73 persen menjadi berakhir di 26.651,21 poin. Indeks S&P 500 meningkat 10,61 poin atau 0,36 persen menjadi ditutup di 2.924,59 poin. Sedangkan Indeks Komposit Nasdaq turun 9,05 poin atau 0,11 persen, menjadi berakhir di 8.037,30 poin.

Saham Ford dan General Motors keduanya melonjak lebih dari satu persen menyusul berita kesepakatan perdagangan trilateral. Saham-saham sensitif perdagangan seperti Boeing juga ditutup 2,79 persen lebih tinggi.

Kanada dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan, bersama Meksiko untuk perjanjian perdagangan bebas baru, yang disebut Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA), menurut pernyataan bersama dari AS dan Kanada/ USMCA akan menggantikan NAFTA yang berusia 24 tahun.

(ABD)

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp14.897/USD

Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)

Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan pagi ini terpantau menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan akhir pekan.

Mengutip Bloomberg, Senin, 1 Oktober 2018, rupiah dibuka ke level Rp14.897 per USD dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp14.902 per USD.

Namun demikian, gerak mata uang Garuda ini perlahan melemah hingga mencapai 7,5 poin atau setara 0,05 persen ke level Rp14.910 per USD. Sementara itu rentang gerak rupiah pada perdagangan pagi ini berada di posisi Rp14.896 per USD hingga Rp14.911 per USD.

Senior Analyst CSA Research Institute Reza Priyambada sebelumnya memprediksikan untuk hari ini rupiah diperkirakan berada pada level support Rp14.920 per USD dan level resisten Rp14.936 per USD.

“Secara tren pergerakan rupiah masih cenderung mendatar dan bahkan berpotensi kembali melemah jika tidak ada sentimen positif yang dapat direspons dengan baik,” kata Reza dalam riset hariannya, Senin, 1 Oktober 2018.

Reza berharap beberapa rilis data ekonomi yang akan diumumkan hari ini bisa menjadi sentimen dan direspons positif oleh rupiah. Sehingga mata uang Garuda itu bisa kembali perkasa mengimbangi nilai tukar USD.

“Diharapkan rili data-data ekonomi di awal pekan mampu memberikan sentimen positif pada rupiah,” ucap dia.

(AHL)

IHSG Terkoreksi di Awal Pekan

Ilustrasi. (FOTO: MI/Usman Iskandar)

Jakarta: Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan pagi ini berbalik arah ke zona merah setelah sebelumnya stabil menguat.

Pantauan Medcom.id, Senin, 1 Oktober 2018, IHSG melemah 3,657 poin atau setara 0,061 persen ke posisi 5.972. IHSG pada bel pembukaan perdagangan sempat tertekan ke level 5.950.

Adapun volume perdagangan pagi ini tercatat sebanyak 513,2 juta lembar senilai Rp260,7 miliar. Sebanyak 121 saham menguat, 86 saham melemah, 99 saham stagnan, dan terjadi 18.187 kali frekuensi.

Sementara itu indeks saham unggulan LQ45 naik 2,53 poin atau setara 0,3 persen ke posisi 948. Senada indeks JII naik 1,71 poin atau setara 0,3 persen ke posisi 666.

Pagi ini sektor agri, konsumer, manufaktur, dan perdagangan berada di zona merah. Sementara sektor pertambangan menjadi yang paling menguat sebesar 6,73 poin.

Vice President Research Department PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya memprediksi inflasi akan berada dalam kondisi terkendali. Sehingga menopang gerak IHSG hari ini.

“Hari ini IHSG berpotensi menguat,” kata William dalam riset hariannya, Senin, 1 Oktober 2018.

Selain itu, lanjut William, penantian terhadap rilis kinerja emiten sepanjang kuartal ketiga juga akan turut mewarnai pola gerak IHSG hingga beberapa waktu mendatang. Diharapkan pola-pola tersebut merupakan pola penguatan.

“Hari ini prediksi IHSG akan bergerak di level 5.811 sampai 6.123,” sebut dia.

(AHL)

Pasar Saham Ditutup Positif di Minggu Terakhir September

Jakarta: Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak positif pada perdagangan pekan ini yang kemudian ditutup naik 0,32 persen ke level 5,976.55 poin dari 5,957.74 poin pada pekan sebelumnya. Sedangkan nilai kapitalisasi pasar pada pekan ini juga meningkat 0,50 persen ke posisi Rp6,737.43 triliun dari Rp6,704.19 triliun pada pekan sebelumnya.

Mengutip keterangan tertulis BEI, di Jakarta, Sabtu, 29 September 2018, tidak hanya itu, rata-rata volume transaksi harian BEI meningkat 8,56 persen menjadi 10,33 miliar unit saham dari 9,51 miliar unit saham pada pekan lalu Rata-rata nilai transaksi harian Bursa Efek Indonesia (BEI) selama sepekan terakhir berubah 1,44 persen menjadi Rp7,18 triliun.

Sedangkan rata-rata frekuensi transaksi harian BEI berubah sebanyak 14,78 persen menjadi 339,21 ribu kali transaksi dari 398,28 ribu kali transaksi. Investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp1.612 triliun di sepanjang pekan ini dan sepanjang 2018 investor asing telah mencatatkan jual bersih mencapai Rp51,17 triliun.

Pada pekan ini, seremoni pembukaan perdagangan BEI dibuka dengan Pencatatan Obligasi Berkelanjutan III Federal International Finance dengan Tingkat Bunga Tetap Tahap IV Tahun 2018 yang diterbitkan oleh PT Federal International Finance (FIFA) yang dicatatkan dengan nilai nominal sebesar Rp1,3 triliun.

Total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang 2018 adalah 68 emisi dari 45 perusahaan tercatat senilai Rp85,14 triliun. Dengan pencatatan ini maka total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 366 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp415,33 triliun dan USD47,5 juta, diterbitkan oleh 113 perusahaan tercatat.

Sementara itu, Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 90 seri dengan nilai nominal Rp2.286,64 triliun dan USD200 juta dan Efek Beragun Aset (EBA) sebanyak 11 emisi senilai Rp10,32 triliun.

(ABD)

OJK: Siapa pun Boleh jadi Investor Bank Muamalat

Ilustrasi Bank Muamalat. (FOTO: MI/Adam Dwi)

Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menanggapi pemberitaan di media terkait masuknya investor dalam rangka penambahan modal Bank Muamalat dengan menyatakan bahwa pihak manapun boleh menjadi investor di bank tersebut.

“Siapapun boleh menjadi investor Bank Muamalat sepanjang kredibel dan memiliki fresh money,” kata Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot dalam keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, Jumat, 28 September 2018.

Selain itu, investor tersebut juga harus menempatkan sejumlah uang dalam escrow account di Bank Muamalat sesuai kesepakatan dengan otoritas.

Escrow account adalah rekening yang dibuka untuk menampung dana tertentu yang penarikannya hanya dapat dilakukan dengan syarat khusus sesuai instruksi atau perjanjian antara penyetor dengan pihak yang berkepentingan dengan escrow account tersebut.

Selanjutnya, bank harus segera melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menetapkan investor tersebut.

Sebelumnya beredar kabar bahwa ada sejumlah investor yang akan menyuntikkan modal ke Bank Muamalat. Salah satunya yaitu konsorsium yang digawangi oleh Ilham Habibie, putra mantan Presiden RI BJ Habibie.

Selain itu, ada pula Grup Mayapada yang didirikan oleh Dato Sri Tahir, yang disebut tertarik menjadi pemodal Bank Muamalat.

(AHL)

BEI Ubah Aturan Nominal Saham Dorong IPO

Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengubah aturan batasan nilai nominal saham minimal dalam rangka mendorong penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

“Sebelumnya kami mengatur batasan nilai nominal saham minimal Rp100, sekarang nominalnya kami tidak atur, karena beberapa perusahaan tidak bisa menggunakan aturan itu,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 28 September 2018.

Ia mengatakan untuk mengakomodir itu pihaknya melakukan penyusunan konsep perubahan Peraturan Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat.

“Jadi, nantinya nilai nominal saham bisa di bawah Rp100. Namun, kami akan mengatur harga saham perdana minimal,” paparnya.

Ia mengharapkan dengan perubahan peraturan itu dapat memudahkan perusahaan-perusahaan kecil dan menengah masuk ke pasar modal dalam rangka meraih pendanaan untuk ekspansi bisnis.

“Konsep atas perubahan Peraturan Nomor I-A saat ini sedang dalam tahap menghimpun masukan dari pelaku pasar,” tutupnya.

(AHL)

Rupiah Terjaga Usai Kenaikan Suku Bunga Acuan BI

Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)

Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat sore ini bergerak menguat tipis sebesar lima poin menjadi Rp14.895 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.900 per USD.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk Rully Nova mengatakan pergerakan rupiah relatif terjaga setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) di tengah maraknya berita mengenai kenaikan suku bunga the Fed.

“Biasanya, kenaikan the Fed menekan rupiah terhadap dolar AS. Namun, keputusan Bank Indonesia yang juga menaikan suku bunga serta sejumlah kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah turut menjaga fluktuasi rupiah,” ujarnya, di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 28 September 2018.

Pada 25-26 September, the Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate/FFR) sebesar 25 basis poin menjadi ke level 2-2,25 persen. Pada 27 September, Bank Indonesia juga melakukan hal sama dengan menaikkan BI 7DRR sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Kendati demikian, lanjut dia, sentimen mengenai outlook kenaikan suku bunga The Fed selanjutnya masih membayangi pasar menyusul solidnya perekonomian Amerika Serikat.

“Selain itu, sentimen mengenai perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok juga membayangi mata uang negara berkembang,” katanya.

Ia menambahkan imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang naik diperkirakan dapat menahan penguatan rupiah lebih tinggi. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari ini tercatat melemah menjadi Rp14.929 dibanding sebelumnya di posisi Rp14.929 per USD.

(AHL)

Suku Bunga Naik, IHSG Melesat

llustrasi (MI/Ramdani).

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik pada penutupan perdagangan hari ini. IHSG naik di tengah kenaikan suku bunga dari Bank Indonesia (BI) hari ini.

IHSG, Kamis, 27 September 2018 tercatat mengalami kenaikan sebesar 55,95 poin dengan berada pada level 5.929,22. Volume perdagangan mencapai 5,9 miliar lembar saham dengan nilai mencapai Rp5,1 triliun. Sebanyak 202 saham naik dan 161 saham turun.

Semua saham bergerak naik dengan pengecualian pada saham perkebunan. Sektor saham yang paling naik tinggi adalah sektor konsumer, manufaktur, dan pertambangan

Laju IHSG akan ditentukan dari keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) apakah akan menguat, melemah, atau justru stabil. Sementara investor cenderung menunggu dan melihat perkembangan selanjutnya sejalan dengan antisipasi BI usai the Fed menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 bps.

“Kamis ini, IHSG perkirakan cenderung sideways karena menunggu hasil RDG BI 27-28 September di tengah kejatuhan DJIA 0,4 persen, penurunan harga komoditas, dan di tengah depresiasi rupiah,” kata Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Kamis, 27 September 2018.
(SAW)

Rupiah Tertekan

Illustrasi. MI/Atet Dwi Pramadia.

Jakarta: Mata uang rupiah melemah pada penutupan perdagangan hari ini. Pergerakan mata uang rupiah kembali mendekati level Rp15.000 per USD.

Bloomberg, Kamis, 27 September 2018 merekam mata uang rupiah melemah 12 poin dengan berada pada Rp14.922 per USD. Yahoo Finance melansir mata uang rupiah melemah 15 poin dengan berada pada Rp14.915 per USD. Bank Indonesia mencatat mata uang rupiah naik tipis dengan berada pada Rp14.919 per USD.

Indeks dolar diperkirakan stabil ke level 94,0-94,3 terhadap beberapa mata uang kuat utama dunia lainya pasca kenaikan tingkat suku bunga The Fed sebesar 25 bps ke level 2-2,25 persen.

Pasar telah mem-priced in kenaikan tingkat suku bunga The Fed tersebut dalam satu hingga dua pekan sebelumnya sehingga tidak berdampak terlalu signifikan terhadap penguatan dolar.

Analis melihat The Fed kemungkinan akan menaikkan tingkat suku bunga lebih tinggi lagi tahun depan dari dua kali menjadi tiga kali. Kenaikan tingkat suku bunga The Fed tersebut kemungkinan akan diikuti oleh kenaikan tingkat suku bunga BI 7-D RR sebesar 25 bps jelang RDG BI hari ini.

“Rupiah kemungkinan masih bergerak sideways di level Rp14.890 per USD hingga Rp14.920 per USD,” kata Samuel Sekuritas.

(SAW)

OJK Minta Unit Syariah Memisahkan Diri dari Induk Usaha

Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta unit usaha syariah (UUS) bank segera memisahkan diri dari induk usaha (spin-off) menjadi bank umum syariah (BUS). Kekhawatiran permodalan yang kurang kuat saat menjadi BUS bisa disiasati dengan sharing facility alias kerja sama pemanfaatan fasilitas milik induk usahanya.

Direktur Penelitian, Pengembangan, Pengaturan, dan Perizinan Perbankan Syariah OJK Deden Firman Hendarsyah meyakini kinerja UUS ketika menjadi BUS akan lebih baik. Apalagi otoritas memperbolehkan BUS menggunakan kantor cabang dan teknologi informasi induk usaha.

“Waktu masih UUS dia kan bisa kerja sama erat dengan induknya, nah kebijakan ini kan bisa dilanjutkan misalnya dengan menggunakan sharing facility seperti teknologi informasinya, kantor cabangnya,” ujar Deden dalam Seminar Nasional Perilaku Pasar Keuangan Syariah di Hotel Shangri-La, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu, 26 September 2018.

Lebih lanjut, jelasnya, saat ini kantor cabang bank konvensial diperbolehkan untuk memberikan layanan syariah bank (LSB). OJK juga telah memperbolehkan sharing teknologi informasi antara induk dan anak usaha.

“IT itu sebenarnya sudah mulai boleh sharing karena kan ada ketentuan tentang IT. Peraturan OJK MRTI, Manajemen Risiko Teknologi Informasi, di situ dimungkinkan IT boleh sharing induk-anak. Jadi tidak perlu khawatir,” bebernya.

Deden mengakui, saat ini masih tersisa 20 UUS yang belum menjadi BUS. Rinciannya, 7 UUS bank umum swasta dan 13 UUS bank pembangunan daerah (BPD).

“Kan memang sudah amanat undang-undang, dari UU 2008 (kewajiban UUS menjadi BUS). Mungkin yang perlu kita pikirkan sekarang kebijakannya, kebijakan apa supaya nanti setelah spin off pun hasil spin off-nya itu tetep bisa berkembang,” pungkas Deden.

Pemisahan UUS bank dari induk usaha menjadi BUS paling lambat 2023. Kewajiban itu tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia (BI) Nomor 11 Tahun 2009. Lewat beleid tersebut, BI mewajibkan UUS untuk dipisahkan dari bank umum konvensional (BUK) apabila nilai aset UUS telah mencapai 50 persen dari total nilai aset BUK induknya, atau paling lambat 15 tahun sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah atau pada 2023.

Berdasarkan data OJK per Maret 2018, pembiayaan UUS tumbuh 33,12 persen secara tahun ke tahun atau year on year (yoy) menjadi Rp97,13 triliun. Sementara untuk dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 30,30 persen yoy menjadi Rp95,08 triliun. Sementara untuk pembiayaan (financing) BUS tumbuh 6,69 persen yoy menjadi Rp190,58 triliun. Untuk DPK tumbuh 14,83 persen yoy menjadi Rp244,82 triliun.

(SAW)

IHSG Melemah 1,03 Poin

IHSG. Dok : MI.

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada penutupan hari ini. IHSG ditutup melemah setelah ada sinyal kenaikan suku bunga The Fed. 

Pada 26 September 2018, IHSG berada pada 5.873,27 atau melemah sebanyak 1,03 poin. Volume perdagangan sebanyak 7,5 miliar lembar saham dengan nilainya mencapai Rp5,2 triliun. Sebanyak 192 saham naik dan 187 saham turun. 

The Fed diperkirakan akan menaikkan tingkat suku bunga acuan dalam FOMC kali ini. Untuk data ekonomi, tingkat kepercayaan konsumen AS secara tidak terduga meningkat pada bulan September seiring adanya peningkatan dalam pasar tenaga kerja dan ekonomi secara keseluruhan. Untuk komoditas minyak, Brent mencapai level tertinggi baru dalam empat tahun, didorong sanksi AS yang akan segera menekan ekspor Iran serta keengganan OPEC dan Rusia untuk meningkatkan output.

“IHSG hari ini berpeluang menguat seiring kondisi fundamental akhir-akhir ini yang relatif stabil. Pergantian kuartal dan rilisnya data perekonomian yaitu suku bunga, serta inflasi yang diperkirakan masih akan terkendali menjadi fokus utama,” kata Samuel. 

(SAW)

IHSG Minus 7,92 Poin

IHSG. Dok: MI.

Jakarta: Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) minus pada penutupan perdagangan hari ini. Rupiah tak berhasil menguat di tengah minimnya sentimen dari dalam negeri dan memerahnya bursa saham Amerika Serikat. 

IHSG, Selasa berada pada level 5.874,30 atau minus 7,92 poin. Volume perdagangan mencapai 6,6 miliar lembar saham dan nilainya mencapai Rp4 triliun. Sebanyak 174 saham naik dan 186 saham turun. Net buy asing mencapai Rp19,54 miliar.

Hampir semua sektor melemah. Hanya sektor pertambangan dan aneka industri yang memimpin penguatan. 

Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang memprediksi IHSG masih melemah hari ini seiring dengan melemahnya DJIA 0,68 persen, EIDO 2,24 persen, Nikel 2,24 persen serta naiknya harga crude oil 2,08 persen.

Menurut Edwin IHSG hari ini berada dikisaran support 5.838 dan resisten 5.909.

“Kejatuhan IHSG perkirakan akan berlanjut dalam perdagangan Selasa ini,” ucap Edwin.
(SAW)

Rupiah Kembali Dekati Level Rp15.000/USD

Illustrasi. MI/Atet Dwi Pramadia.

Jakarta: Mata uang rupiah mendekati level Rp15.000 per USD pada penutupan perdagangan hari ini. Mata uang rupiah melemah karena minimnya sentimen positif dari dalam negeri.

Melansir Bloomberg, Selasa, 25 Sptember 2018 mencatat mata uang rupiah melemah 51,5 poin dengan berada pada Rp14.917 per USD. Yahoo Finance melansir mata uang rupiah melemah 55 poin dengan berada pada Rp14.915 per USD. Bank Indonesia melansir mata uang rupiah melemah dengan berada pada Rp14.893 per USD.

Gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diprediksi cenderung melemah karena minimnya sentimen positif dari dalam negeri. Senior Analyst CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan mata uang rupiah berada di kisaran support Rp14.852 per USD dan resisten Rp14.868 per USD.

“Minimnya sentimen positif dari dalam negeri membuat laju rupiah cenderung kembali melemah,” kata Reza, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Selasa, 25 September 2018.

Kendati demikian, Reza menilai seharusnya nilai tukar rupiah bisa memanfaatkan momentum untuk bergerak menuju penguatan. Momentum itu seperti sikap menahan diri pelaku pasar karena menanti hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang membuat laju USD sedikit tertahan.

“Diharapkan dengan berkurangnya permintaan mata uang safe haven, terutama USD dapat memberikan peluang rupiah untuk kembali menguat,” ujar dia.

(SAW)

Rupiah Melemah 49,5 Poin

Rupiah. MI/RAMDANI.

Jakarta: Mata uang rupiah melemah pada penutupan perdagangan hari ini. Mata uang rupiah kembali anjlok setelah perundingan mengenai perang dagang antara AS dan Tiongkok belum menemukan titik temu.

Bloomberg, Senin, 24 September 2018 mencatat mata uang rupiah melemah 49 Poin dengan berada pada Rp14.866 per USD. Yahoo Finance mencatat mata uang rupiah melemah 46 poin dengan berada pada Rp14.862 per USD. Bank Indonesia (BI) melansir mata uang rupiah melemah dengan berada pada Rp14.865 per USD.

Sebelumnya Senior Analyst CSA Research Institute Reza Priyambada menyatakan nilai tukar mata uang Garuda akan berada di kisaran Rp14.822 per dolar Amerika Serikat (USD) sampai Rp14.802 per USD. Menurutnya, bertahannya laju rupiah di level teritori positif memberikan ruang untuk kembali melanjutkan pergerakan positifnya.

“Sejumlah komentar positif dari para pejabat dalam negeri cukup membantu bertahannya rupiah di zona hijau dan diharapkan masih dapat bertahan positif pada pergerakan selanjutnya,” kata Reza dalam riset hariannya, Senin, 24 September 2018.

Selain itu, lanjut Reza, pergerakan rupiah hari ini juga didukung oleh berkurangnya permintaan mata uang Amerika Serikat.  “Berkurangnya permintaan akan mata uang safe haven dapat memberikan peluang pada rupiah untuk kembali menguat,” ucap Reza.

(SAW)

IHSG Terpuruk di 5.882

IHSG. Dok: MI.

Jakarta :Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk pada hari ini. IHSG anjlok setelah sentimen perang dagang AS dan Tiongkok belum menemukan titik temu.

IHSG, Senin, 24 September 2018 tercatat melemah 75,52 poin dengan berada pada 5.882. Volume perdagangan mencapai 6,9 miliar lembar saham dengan nilai mencapai Rp4,6 triliun. Sebanyak 119 saham naik dan 278 saham turun.

Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan setelah menguat 2,1 persen selama tiga hari atau 146 poin, hari ini IHSG diprediksi kembali terkena aksi profit taking. Ia menaksir IHSG akan bergerak di rentang 5.914-5.985.

“IHSG diperkirakan berpeluang terkena profit taking menyusul kejatuhan EIDO, emas, timah, dan crude palm oil (CPO),” kata Edwin dalam riset hariannya, Senin, 24 September 2018.

Edwin menjelaskan pelemahan ini diperkirakan berlanjut karena banyaknya agenda ekonomi pekan ini. Beberapa di antaranya Amerika Serikat (AS) mulai menerapkan tarif untuk produk impor asal Tiongkok pada 24 September 2018.

“Dimulai dari 24 September 2018, mulai diberlakukannya tarif untuk produk impor asal Tiongkok senilai USD200 miliar. Amerika akan mengenakan tarif 10 persen hingga akhir tahun, dan pada 1 Januari 2019 tarif akan naik menjadi 25 persen,” jelas Edwin.
(SAW)

Kepemilikan Saham Investor Lokal di Atas Investor Asing

Jakarta: Direktur Utama (Dirut) Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djayadi menyebut kepemilikan saham atau efek investor lokal saat ini sudah melebihi dari kepemilikan asing. Secara persentase, jumlah kepemilikan saham investor dalam negeri mencapai lebih dari 50 persen.

“Investor lokal sekarang sudah lebih besar dari foreign (asing). Saya enggak hapal (angka) pastinya, tapi dia (kepemilikan saham lokal) sudah lebih dari 50 persen,” ujar Inarno dalam rangkaian acara Hari Ulang Tahun (HUT) Pasar Modal ke-41 di Lot 7 Kawasan SCBD Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu, 23 September 2018.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), total saham hingga Agustus 2018 mencapai sebanyak Rp3.785,2 triliun. Dari jumlah tersebut kepemilikan saham dari investor lokal sebanyak Rp1.995,3 triliun (52,7 persen), sementara kepemilikan asing sebesar Rp1.789,8 triliun (47,3 persen).

“Kita harapkan ke depannya porsi lokalnya itu lebih tinggi lagi,” ungkap Inarno.

Meski porsi kepemilikan saham asing lebih kecil, bukan berarti secara jumlah aset yang ada di pasar modal Tanah Air merosot. “Ini bukan berarti ammount (jumlah saham) asingnya turun, ini kan dari sisi persentase,” jelas dia.

Selama tiga bulan terakhir, jumlah saham di Indonesia terus mengalami peningkatan. Pada Juni 2018, total saham di Indonesia mencapai Rp3.612,2 triliun. Sementara pada Juli 2018, jumlah sahamnya naik 3,24 persen (month to month) menjadi Rp3.729,1 triliun.

Pun pada September 2018. Kapitalisasi saham di Indonesia kembali naik 1,5 persen menjadi Rp3.785,2 triliun.

Sementara secara persentase tahun ke tahun, porsi kepemilikan saham antara investor lokal dan asing mengalami perubahan. Pada Agustus 2017, kepemilikan saham investor lokal sebanyak Rp1.653,5 triliun (47 persen) dan kepemilikan saham investor asing sebesar Rp1.862,4 triliun (53 persen). Sedangkan pada Agustus 2018, kepemilikan saham investor lokal sebanyak Rp1.995,3 triliun (52,7 persen). Sementara untuk saham yang dimiliki asing sebesar Rp1.789,8 triliun (47,3 persen).

(SAW)

BEI bakal Keluarkan Produk Baru untuk Dongrak Pasar Modal

BEI. MI/PANCA SYURKANI.

Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana mengeluarkan produk-produk baru pasar modal. Kata Direktur Utama (Dirut) BEI Inarno Djayadi, variasi produk dimaksudkan untuk mendongkrak kinerja pasar modal Indonesia.

“Kita ke depannya akan meningkatkan atau menambahkan produk-produk pasar modal sehingga investor bisa mempunyai alternatif di pasar modal,” ujar Inarno dalam rangkaian acara Hari Ulang Tahun (HUT) Pasar Modal ke-41 di Lot 7 Kawasan SCBD Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu, 23 September 2018.

Variasi produk merupakan upaya BEI untuk memperdalam pasar modal Tanah Air. Salah satunya yakni merevitalisasi kontrak berjangka atau index future. “Lainnya adalah single stock futures. Jadi nantinya agar supaya ada nilai hedging terhadap equity,” bebernya.

Inisiatif BEI melakukan variasi produk pasar modal dilakukan secara bertahap, dimulai dari kontrak berjangka. Sementara itu inovasi lainnya adalah memaksimalkan fungsi securities lending borrowing (SLB) alias jasa pinjam meminjam efek (PME).

Selama ini mekanisme praktik pinjam meminjam efek telah tersedia. Hanya saja fungsinya belum dimaksimalkan dalam perdagangan bursa lantaran minimnya pihak yang bersedia menjadi peminjam. “Jadi deepening the market (pendalaman pasar) kita lihat dari sisi suplainya dengan meningkatkan produk-produknya. Dari sisi demand-nya, kita menekan ritel,” ungkap Inarno.

Pendalaman pasar dilakukan untuk mendukung pertumbuhan perekonomian nasional. Selain menambah demand dan suplai berupa emiten dan produk pasar modal, pendalaman pasar juga dilakukan dengan memperkuat infrastruktur serta meningkatkan tata kelola.

(SAW)

Pekan Ini IHSG Bergerak Positif 0,45%

Jakarta: Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak positif pada perdagangan pekan ini yang kemudian ditutup naik 0,45 persen ke level 5.957,74 poin dari 5.931,28 poin pada pekan sebelumnya. Sejalan dengan kenaikan IHSG, nilai kapitalisasi pasar pada pekan ini juga meningkat 0,55 persen ke posisi Rp6.704,19 triliun dari Rp6.667,57 triliun.

Mengutip keterangan resmi BEI, Sabtu, 22 September 2018, rata-rata nilai transaksi harian Bursa Efek Indonesia (BEI) selama sepekan terakhir naik 12,95 persen menjadi Rp7,29 triliun dari Rp6,45 triliun sepekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi harian BEI juga meningkat lima persen menjadi 9,52 miliar unit saham dari 9,06 miliar unit saham pada pekan lalu.

Sedangkan rata-rata frekuensi transaksi harian BEI naik sebanyak 13,62 persen menjadi 398,28 ribu kali transaksi dari 350,53 ribu kali transaksi. Sementara itu, investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp1.014 triliun di sepanjang pekan ini dan sepanjang 2018 investor asing telah mencatatkan jual bersih mencapai Rp52,78 triliun.

BEI pada pekan ini mencatatkan dua perusahaan tercatat ke-598 dan 599. Kedua perusahaan tersebut adalah PT Arkadia Digital Media Tbk (DIGI) dan PT Pratama Abadi Nusa Industri Tbk (PANI) di mana keduanya menjadi pendatang baru dan tercatat pada Papan Pengembangan BEI.

Pada Jumat 21 September, BEI mencatatkan dua obligasi. Obligasi I yang diterbitkan oleh PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLBS) Tahun 2018 resmi dicatatkan di BEI dengan nilai nominal sebesar Rp1,3 triliun. Kemudian Obligasi Berkelanjutan II Bank CIMB Niaga Tahap IV Tahun 2018 yang diterbitkan oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA).

Total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang 2018 adalah 65 emisi dari 43 perusahaan tercatat senilai Rp80,03 triliun. Dengan pencatatan ini maka total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 363 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp410,23 triliun dan USD47,5 juta, diterbitkan oleh 113 perusahaan tercatat.

Sementara itu, Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 90 seri dengan nilai nominal Rp2.280,24 triliun dan USD200 juta. Efek Beragun Aset (EBA) sebanyak 11 emisi senilai Rp10,48 triliun.

(ABD)

Perusahaan Bakrie Group Ubah Desain Pipa Gas Kalija II

Jakarta: PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berencana mengubah desain pipa gas Kalimantan-Jawa (Kalija) II yang membentang dari Kalimantan ke Jawa menjadi pipa gas Trans Kalimantan.

Corporate Secretary Bakrie & Brothers Christofer A Uktolseja menuturkan perubahan desain ini sudah disampaikan kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

“Perubahan desain ini telah memperoleh persetujuan dari otoritas terkait,” kata Christofer seperti dikutip dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, 21 September 2018.

Christofer menjelaskan proyek tersebut awalnya merupakan implementasi dari perencanaan untuk mengalirkan gas bumi dari Pulau Kalimantan ke PuIau Jawa. Namun karena ada perubahan parameter keekonomian, maka desain proyek tersebut diubah.

“Seiring berubahnya beberapa parameter keekonomian, maka diubah menjadi pengaliran gas bumi untuk memasok kebutuhan di beberapa wilayah di Pulau Kalimantan,” jelas dia.

Perusahaan Bakrie group akan mulai menjalankan proyek tersebut setelah memperoleh gas sales agreement (GSA) dan gas transportation agreement (GTA) berikut ketersediaan lahan jalur pipa dan perizinannya.

“Diharapkan dapat dimulai tahun ini,” ucap dia.

Saat dikonfirmasi, Anggota BPH Migas Jugi Prajogio mengatakan BPH Migas telah menyetujui perubahan proyek Kalija II tersebut. Persetujuan perubahan desain itu dikarenakan faktor keekonomian pipa.

“Satu hal lagi yang penting adalah aspek keekonomian pipa,” kata Jugi kepada Medcom.id.

Selain itu, lanjut Jugi, perubahan desain proyek karena memperhatikan keseimbangan gas di Pulau Jawa. Ia melihat gas di Jawa sudah terpenuhi karena adanya pasokan dari lapangan gas sekitar.

“Juga memperhatikan keseimbangan gas Pulau Jawa, dapat dipasok oleh sumber-sumber gas antara lain pasokan LNG via Nusantara Regas, pasokan gas dari Coridor Conocophillips, Jambaran Tiung Biru, Husky, Kris Energy, Tuban dan sebagainya,” sebut dia.

Bakrie & Brothers memperoleh proyek pipa gas Kalimantan Jawa pada 27 Juli 2006. Proyek Kalija terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama, sudah mendapatkan gas dari Lapangan Kepodang.

Sementara proyek Kalija II yang menghubungkan Bontang, Kalimantan Timur-Mangkang, Semarang, Jawa Tengah sejauh 1.155 kilometer (km) masih terkendala pasokan gas dan tidak ada calon pengguna gas.

(AHL)

Kepercayaan Investor Asing ke PTPP

Direktur EPC dan Kerjasama Luar Negeri PTPP Abdul Haris Tatang (kiri). (FOTO: dok PTPP)

Jakarta: Perusahaan BUMN konstruksi PT PP (Persero) mengatakan perseroan semakin dipercaya oleh investor asing yang ditunjukkan melalui proyek energi yang sudah digarap.

Perseroan meraih penghargaan internasional dari Asian Power Awards 2018. “Ini merupakan ajang yang bergengsi di Asia yang dijuluki sebagai Oscar di bidang power (energi). Ini juga sikap kepercayaan asing kepada kami,” kata Direktur EPC dan Kerjasama Luar Negeri PTPP Abdul Haris Tatang, dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 21 September 2018.

PTPP meraih dua penghargaan untuk Dual Fuel Power Plant of the Year-Gold Award, untuk proyek mobile power plant and fixed type gas engine power plant package VIII-Jayapura dan Kendari powered by Consortium of PTPP and Wartsila.

Dia mengatakan proyek Mobile Power Plant (MPP) Paket VII adalah proyek PLTMG dengan kapasitas 100 megawatt (mw) yang dibagi dalam dua wilayah timur di Jayapura dan Kendari, yakni masing-masing dengan kapasitas 50 mw. Pembangunan di dua kota tersebut merupakan dukungan PTPP terhadap program pemerintah untuk untuk membangun listrik nasional sebesar 35.000 mw.

“PT PLN (Persero) sebagai pemilik proyek MPP Paket 8 menunjuk perseroan sebagai pemimpin dalam konsorsium dengan Wartsila Oy dan PT Wartsila Indonesia untuk menyelesaikan proyek ini. Dengan masa penyelesaian target enam bulan, sebagaimana diamanatkan oleh PLN,” jelas Abdul Haris Tatang.

Kategori kedua, yaitu Geothermal Power Project of the Year-Gold Award untuk Proyek EPCC Rehabilitation Works PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) Kamojang Unit 1 powered by PTPP.

Proyek Kamojang merupakan proyek rehabilitasi proses Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi unit 1 di Kamojang dengan kapasitas 30 MW dan merupakan salah satu energi terbarukan. “Rekam jejak yang dimiliki perseroan sebagai EPC yang handal, cepat dan hemat biaya, maka kami diberikan kesempatan untuk menjadi BUMN pertama melakukan rehabilitasi Geothermal Power Plant pertama di Indonesia,” ungkapnya.

Harapan besar proyek di Kamojang, lanjut dia, karena tidak hanya tentang merehabilitasi pembangkit listrik, tetapi juga mengambil bagian dalam rencana pemerintah untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan. “Dengan kembalinya ada penghargaan ini, maka kami mempertahankan menjadi juara selama tiga tahun berturut-turut,” tukasnya.

(AHL)

Rupiah Sore Ditutup Melesat ke Rp14.816/USD

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat sore atau di akhir pekan terus menunjukkan taringnya dibandingkan dengan perdagangan pada pagi tadi di posisi Rp14.820 per USD. Intervensi yang dilakukan Bank Indonesia dan mulai masuknya arus modal ke Indonesia mendorong rupiah tidak mudah terhempas melemah.

Mengutip Bloomberg, Jumat, 21 September 2018, perdagangan sore ditutup melesat sebanyak 32,5 poin atau setara 0,22 persen ke posisi Rp14.816 per USD. Day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.800 hingga Rp14.837 per USD dengan year to date return di 9,31 persen.

Sementara itu, nilai tukar rupiah menurut Yahoo Finance berada di posisi Rp14.602 per USD. Sedangkan menurut Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.824 per USD.

Sebelumnya, gerak USD tergelincir pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB) pada peningkatan risk appetite dan ekspektasi kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve AS. Indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,66 persen menjadi 93,9145.

Pada akhir perdagangan New York, euro meningkat menjadi USD1,1775 dibandingkan dengan USD1,1674 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,3267 dibandingkan dengan USD1,3145 di sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi USD0,7290 dibandingkan dengan USD0,7265.

Sedangkan USD membeli 112,46 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 112,25 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian USD turun menjadi 0,9595 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9670 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2911 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,2917 dolar Kanada.

USD turun sebanyak 0,9 persen terhadap euro dan pound Inggris, serta tertekan lebih dari 0,8 persen terhadap franc Swiss. Federal Reserve AS diperkirakan menaikkan suku bunga lagi pada pertemuan mendatang di Komite Pasar Terbuka Federal dari 25-26 September.

(ABD)

Aset Riscon Victory Tembus Rp1 Triliun

Ilustrasi. Foto: Antara/Sigid Kurniawan.

Jakarta: PT Riscon Victory atau Riscon Realty telah menerbitkan Surat Berharga Investasi Jangka Pendek (SBI-JP) di akhir tahun lalu, dengan dana yang diraih mencapai Rp500 miliar. Aksi korporasi itu membuat perusahaan meraih kinerja yang cukup positif di Juni 2018.

CEO & Presiden Direktur Riscon Victory Ari Tri Priyono mengatakan dana investor ini sangat membantu perusahaan dalam pengembangan kegiatan usaha terutama penyelesaian beberapa proyek perumahan rakyat dan akuisisi lahan baru di Jawa Barat. Alhasil, total aset perusahaan menembus Rp1 triliun di pertengahan tahun ini.

Meroketnya total aset tersebut didukung lonjakan penjualan sebesar Rp146 miliar selama semester pertama di 2018. Padahal, pada ada periode yang sama tahun sebelumnya hanya Rp71 miliar. 

“Laba perusahaan juga meningkat tajam menjadi sebesar Rp39,3 miliar sampai Juni 2018 dibandingkan pertengahan 2017 yang hanya sebesar Rp25,5 miliar,” kata Ari dalam keterangan tertulis, Jakarta, Kamis, 20 September 2018.

SBI-JP Riscon Realty turut didukung Bank BRI yang berperan sebagai agen pemantau, agen pembayaran, dan agen jaminan yang mewakili kepentingan investor agar Riscon Realty bertanggung jawab atas segala kewajiban yang timbul dari penerbitan SBI-JP.

“Kami sangat bersyukur atas hasil kerja sama dengan BRI dan Ascort Asia Group yang membawa perusahaan ke level yang tinggi. Kami memproyeksikan hingga penghujung 2018 kami dapat membukukan pertumbuhan aset mencapai sekitar 65 persen dan pertumbuhan laba sekitar 67 persen dibandingkan tahun lalu,” jelas dia.

Group CEO Ascort Asia Group Anthony Soewandy menambahkan, perusahaan bangga turut mendongkrak pertumbuhan bisnis Riscon Realty sejak penerbitan SBI-JP di akhir 2017. “Kami juga turut berterima kasih kepada Bank BRI dan berbagai pihak lainnya yang membantu mitra korporasi kami yang membutuhkan pendanaan lewat instrumen SBI-JP,” terang dia.

(HUS)

BEI Permudah Persyaratan IPO

Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) mempermudah persyaratan perusahaan yang melantai di bursa alias initial public offering (IPO). Relaksasi tersebut demi meningkatkan jumlah perusahaan yang tercatat di bursa.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan pihaknya saat ini sedang menyusun konsep perubahan Peraturan Nomor I-A tentang pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas selain saham yang diterbitkan perusahaan tercatat.

“Secara garis besar, arah perubahan konsep Peraturan Nomor I-A ini untuk dapat mempermudah perusahaan untuk dapat mencatatkan sahamnya di bursa,” kata Nyoman di Gedung BEI, Jakarta, Kamis, 20 September 2018.

Terdapat beberapa perubahan dalam Peraturan Nomor I-A. Pertama, mengenai alternatif syarat net tangible asset (NTA) minimal Rp5 miliar di papan pengembangan, laba usaha (tahun buku terakhir) minimal Rp1 miliar dan market cap minimal Rp100 miliar atau pendapatan usaha minimal Rp40 miliar, serta market cap minimal Rp200 miliar.

Kedua, bursa tidak lagi mengatur batasan nilai nominal saham minimal Rp100. Namun, mengatur harga saham perdana minimal Rp100.

Ketiga, merelaksasi syarat pemenuhan direktur independen. Kata Nyoman, direktur independen boleh merangkap jabatan di perusahaan lain yang merupakan anak perusahaan yang terkonsolidasi dengan perusahaan tercatat.

Keempat, bursa juga akan mencabut ketentuan lock-up saham hasil penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD)

Penyederhanaan Proses dan Dokumen

Lebih lanjut, jelas Nyoman, bursa akan menyederhanakan dokumen, dari 40 menjadi 15 dokumen dengan menghapus permintaan beberapa dokumen dan menggantinya dengan prospektus. Lalu, permohonan pencatatan efek ke BEI bisa disampaikan bersamaan dengan penyampaian pernyataan pendaftaran ke OJK.

“Diharapkan dapat mempersingkat waktu proses pencatatan dan penawaran umum,” ucap dia.

Kemudian, bursa juga akan menghapus kewajiban penyampaian permohonan dalam bentuk hardcopy dan hanya mewajibkan penyampaian dokumen softcopy. Hal ini dilakukan dalam rangka integrasi proses permohonan dengan OJK melalui Sistem Perizinan dan Registrasi Terintegrasi (SPRINT) OJK.

“BEI mengharapkan perubahan peraturan nomor I-A ini dapat memperluas akses pendanaan dari pasar modal, serta memberikan kejelasan bagi pelaku pasar dengan tetap memperhatikan perlindungan investor serta menyelaraskan dengan peraturan-peraturan terbaru yang berlaku di OJK terkait perusahaan tercatat dan perusahaan publik,” tutup Nyoman.

(HUS)

Danareksa: Pergerakan IHSG Positif di Setiap Pesta Demokrasi

Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani.

Jakarta: PT Danareksa (Persero) menilai sektor industri pasar modal masih bergeliat di tahun depan. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun akan dipengaruhi kondisi perpolitikan di 2019.

Kata Head of Research and Strategy PT Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto, gerak IHSG di tahun depan dipengaruhi oleh penyelenggaraan pemilihan presiden dan pemilihan legislatif.

“Pergerakan IHSG juga selalu punya arah pergerakan di setiap pesta demokrasi,” kata Helmy dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 19 September 2018.

Helmy berharap pesta demokrasi tahun depan berjalan lancar dan damai. Hal tersebut penting bagi stabilitas investasi di Indonesia karena mampu membangun kepercayaan para investor. 

Oleh karena itu, Danareksa Sekuritas meminta pemerintah untuk menerapkan kebijakan untuk mendukung dan menjaga perekonomian negeri.

“Pemerintah juga akan memprioritaskan kebijakan populis, terutama meningkatkan konsumsi, termasuk belanja sosial dan subsidi,”jelas dia.

Lebih lanjut, Helmy mengungkapkan sektor yang menjadi perhatian pada tahun depan adalah otomotif, perbankan, tambang batu bara, konsumer, perkebunan, ritel, konstruksi, dan telekomunikasi. “Pertumbuhan sektor-sektor tersebut juga akan dipengaruhi sentimen ekonomi global dan dalam negeri,” pungkas dia.

(HUS)

Rupiah Makin Perkasa

Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)

Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah hingga penutupan perdagangan sore ini terpantau makin unjuk gigi. Namun tak beberapa lama kemudian perlahan kembali unjuk gigi.

Mengutip Bloomberg, Rabu, 19 September 2018, rupiah ditutup ke level Rp14.875 per USD dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp14.915 per USD.

Gerak mata uang Garuda ini terus menguat hingga mencapai 20 poin atau setara 0,13 persen. Sementara itu rentang gerak rupiah pada perdagangan sepanjang sore ini berada di posisi Rp14.870 per USD hingga Rp14.915 per USD.

Senada, mencatat data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp14.871 per USD. Rupiah menguat hingga mencapai 21 poin atau setara 0,14 persen dari pembukaan perdagangan di posisi Rp14.850 per USD.

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Samual yang menyatakan pergerakan mata uang Garuda masih terdampak faktor-faktor eksternal yaitu perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.

“Pada 24 September, Amerika Serikat mengenakan tarif impor 10 persen untuk barang yang berasal dari Tiongkok senilai USD200 miliar,” jelas David kepada Medcom.id, Rabu, 19 September 2018.

David juga menuturkan, pihak Tiongkok pun menerapkan hal yang sama. Negara Tirai Bambu itu juga akan mengenakan tarif 10 persen untuk produk-produk yang berasal dari Amerika Serikat senilai USD60 miliar.

(AHL)

BEI Siapkan Upaya agar AB Tidak Merugi

Ilustrasi gedung BEI. (FOTO: MI/Panca Syurkani)

Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan beberapa langkah untuk meminimalisasi kerugian perusahaan sekuritas yang menjadi Anggota Bursa (AB).

Direktur Perdagangan dan Pengaturan AB BEI Laksono Widodo menyebutkan ada beberapa hal yang telah disiapkan pihak bursa di antaranya meluncurkan produk baru dan membuat perusahaan IT.

“Dari kami mencoba meluncurkan produk baru di mana mereka bisa menjual ke masyarakat,” sebut Laksono di Gedung BEI, Jakarta, Selasa, 18 September 2018.

Ia menuturkan peluncuran produk baru ini akan menjadi upaya jangka pendek yang bisa mendongkrak pendapatan operasional.

Sementara untuk perusahaan IT, Laksono melanjutkan upaya tersebut merupakan jangka menengah. Melalui pengembangan perusahaan IT maka bisa menunjang aktivitas operasional dan menekan biaya pengeluaran AB sehingga lebih efisien.

“Jangka menengahnya pengembangan perusahaan IT yang diharapkan investasinya berkurang. Ini nanti akan menyediakan platform IT untuk AB,” jelas Laksono.

(AHL)

Indika Energy Bentuk Anak Usaha Bidang Jasa Teknologi

Ilustrasi. (FOTO: dok Indika Energy)

Jakarta: PT Indika Energy Tbk (INDY) bersama PT Indika Inti Corporindo mendirikan anak perusahaan baru dengan nama dengan nama PT Indika Digital Teknologi (IDT).

Sekretaris Perusahaan Indika Energy Adi Pramono mengatakan nantinya IDT akan menjalankan bisnis di bidang jasa, perdagangan, percetakan, dan jasa lain.

“Bahwa maksud dan tujuan IDT ialah berusaha dalam bidang jasa, perdagangan umum, percetakan, dan jasa lainnya,” kata Adi, seperti dikutip dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, 18 September 2018.

Dalam laporan keterbukaan tersebut menyebutkan, modal dasar dalam pembentukan perusahaan ini sebesar Rp420 miliar atau setara 420 ribu lembar saham dengan harga per sahamnya Rp1 juta. Modal disetor dan ditempatkan dalam struktur permodalan IDT masing-masing sebesar Rp105 miliar.

Sementara untuk susunan pemegang saham IDT terdiri dari PT Indika Energy Tbk sebanyak 104.990 lembar saham dan PT Indika Inti Corporindo sebanyak 10 lembar saham.

“Pendirian IDT tidak menimbulkan dampak yang material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan atau kelangsungan usaha perseroan,” tutup Adi.

(AHL)